Muhammad Latief
JAKARTA
Filipina dan China sepakat menyelesaikan perbedaan klaim maritim melalui mekanisme bilateral, tanpa mengganggu hubungan dan kerja sama ekonomi yang sudah terbangun selama ini, seperti dilansir Inquirer.
Presiden Rodrigo Duterte mengungkapkan masalah Laut Filipina Barat, khususnya situasi di Pulau Pag-asa, dalam pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis.
Kedua pimpinan sepakat bahwa situasinya bisa diselesaikan melalui mekanisme negosiasi bilateral dan tidak boleh memengaruhi kerja sama Filipina dan China.
Mereka akan mengadakan diskusi yang produktif mengenai masalah-masalah yang menjadi perhatian dan kepentingan bersama, Juru Bicara Kepresidenan Salvador Panelo mengatakan dalam sebuah pernyataan Kamis malam.
Dengan melalui mekanisme bilateral, maka keduanya sepakat menjaga saluran diplomatik tetap terbuka dan tidak akan membawa masalah ini ke pengadilan internasional atau arbitrase sebagaimana tindakan pendahulu Duterte, Benigno S. Aquino III.
Ketegangan di Laut Filipina Barat belakangan ini meningkat setelah kedatangan sekelompok milisi China di Pulau Pag-asa yang berada di di bawah kekuasaan Filipina. Selain itu ada juga panen kerang raksasa oleh nelayan China di Scarborough Shoal.
Presiden Jinping mengungkapkan tentang pentingnya "bertetangga yang baik dan penanganan perbedaan yang tepat antara kedua negara."
Pemimpin China itu, kata Panelo mengakui adanya tantangan dalam hubungan bilateral, namun menggarisbawahi "rasa saling percaya" yang ada di antara kedua negara untuk menyelesaikan perbedaan.
Jinping menurut Panelo juga menyebut kesepakatan tentang eksplorasi minyak dan gas tahun lalu sebagai contoh kedua negara rela mengesampingkan perbedaan untuk hal yang lebih menguntungkan.
Jinping juga berjanji memberikan bantuan untuk Luzon dan Mindanao memacu pertumbuhan ekonomi regional. Dia juga berkomitmen mempromosikan Clark Green City dengan membangun taman industri.
Jinping juga melihat BRI memainkan peran penting dalam hubungan ASEAN -China serta di Kawasan Pertumbuhan ASEAN Timur-Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Filipina (BIMP-EAGA).
Dalam waktu dekat, kelompok pertama guru-guru Filipina akan segera mengajar Bahasa Inggris di Tiongkok.
Dia juga berkomitmen untuk terus menyumbangkan beras, benih dan mengimpor buah-buahan Filipina.
Terakhir, dia berkomitmen untuk memberikan hibah satu miliar yuan ke Filipina.
news_share_descriptionsubscription_contact
