Regional

Bangladesh minta Thailand berperan dalam "kembalinya" Rohingya ke Myanmar

Thailand yang berasal dari beragam kelompok etnis dan agama dapat menjadi contoh bagi Myanmar bagaimana hidup bersama Rohingya dengan damai

Hayati Nupus   | 05.11.2019
Bangladesh minta Thailand berperan dalam "kembalinya" Rohingya ke Myanmar Pengungsi Rohingya di Bangladesh. (Foto file-Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA 

Bangladesh mengungkapkan bahwa Thailand dapat berperan lebih untuk memulangkan pengungsi Rohingya ke tanah air mereka di Myanmar.

Dalam wawancara khusus dengan Bangkok Post, Ketua Komite Parlemen Bangladesh untuk Urusan Luar Negeri Muhammad Faruk Khan mengatakan bahwa 30 tahun lalu Thailand memiliki pengalaman serupa ketika orang-orang dari Myanmar berlindung ke negeri gajah putih itu.

“Kami menantikan Thailand memberi kesan kepada Myanmar bahwa ini situasi yang harus mereka selesaikan,” ujar Faruk.

Thailand, lanjut Faruk, berasal dari beragam kelompok etnis dan agama yang hidup bersama dalam damai.

Negeri gajah putih itu, imbuh Faruk, dapat menjadi contoh bagi Myanmar bagaimana hidup bersama dengan etnis sekaligus Muslim Rohingya.

“Anda telah menampung mereka selama 35 tahun, kami berharap Thailand melakukan lebih banyak lagi,” ujar Faruk.

Faruk mengatakan istilah kembali lebih tepat ketimbang repatriasi yang hanya mengurusi persoalan teknis.

“Kembalinya warga Myanmar ke Myanmar,” tegas Faruk.

Myanmar, lanjut Faruk, juga harus menjemput warganya, Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh.

Negara itu, imbuh Faruk, harus mengatur kunjungan agar Rohingya dapat melihat persiapan Myanmar supaya warganya dapat kembali dengan aman dan nyaman.

Selain itu, lanjut Faruk, Myanmar harus mengizinkan lembaga internasional meninjau kondisi Rohingya yang masih tinggal di Myanmar.

ASEAN juga harus mengirimkan tim pemantauan sipil untuk meninjau sejauh mana Myanmar mempersiapkan kembalinya orang Rohingya.

Sekaligus memantau bagaimana mereka diperlakukan di negaranya begitu kembali ke Myanmar, ujar Faruk.

“Myanmar harus berdiskusi dan meyakinkan Rohingya agar mau kembali ke negaranya,” kata Faruk.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh tentara Myanmar.

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

Upaya negosiasi untuk mengembalikan pengungsi Rohingya antara Myanmar dan Bangladesh terhenti sejak Agustus lalu.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın