Rhany Chairunissa Rufinaldo
06 Maret 2020•Update: 09 Maret 2020
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Amerika Serikat mengumumkan bantuan kemanusiaan tambahan senilai lebih dari USD59 juta atau sekitar Rp826 miliar untuk pengungsi Rohingya dan penduduk lokal di Bangladesh.
"Bantuan itu juga akan mencakup warga Rohingya yang terlantar secara internal dan anggota masyarakat yang terkena dampak lainnya di Myanmar," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus dalam sebuah pernyataan, Kamis.
Ortagus mengatakan pendanaan ini akan membantu mengatasi kebutuhan darurat lebih dari 900.000 orang pengungsi di Bangladesh serta kebutuhan warga lokal Bangladesh yang terdampak.
"Pendanaan ini juga akan memberikan bantuan penyelamatan jiwa bagi para pengungsi internal, termasuk Rohingya, dan anggota komunitas yang terkena dampak lainnya di Myanmar, termasuk mereka yang terkena dampak pertempuran antara militer Myanmar dan Tentara Arakan," tambah dia.
Sejak pasukan Myanmar melancarkan penumpasan pada komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017, yang memaksa ratusan ribu orang melarikan diri dan menyeberang ke Bangladesh, AS telah menggelontorkan hampir USD820 juta atau sekitar Rp11,5 triliun dana bantuan.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.