ANKARA
Mengecam aksi provokasi Yunani yang masih berlanjut, Turki pada Senin memperingatkan Athena agar tidak melakukan manuver baru atas nama orang lain (perintah dari pihak lain).
"Ketika kami mencoba untuk menghormati hak bertetangga kami di Laut Aegea, Yunani masih melanjutkan provokasinya. Jika Anda memulai manuver atas permintaan pihak lain, Anda akan menerima konsekuensi seperti yang terjadi di masa lalu. Ini adalah peringatan untuk tetangga kami Yunani," kata Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu pada simposium tentang Pertempuran Sakarya.
Pertempuran Sakarya terjadi di tepi Sungai Sakarya, di dekat ibu kota Turki, Ankara. Medan pertempuran, Polatli, hanya berjarak 80 kilometer dari Ankara.
Setelah pertempuran, Ataturk dianugerahi pangkat marshal oleh parlemen, serta gelar Gazi (Veteran) atas upaya dan kemenangannya di medan perang.
Menlu Turki mendesak Yunani untuk tidak menjadi "alat" pihak lain, dan segera mengakhiri provokasinya.
Turki, anggota NATO selama lebih dari 70 tahun, telah mengecam tindakan provokatif dan retorika negatif berulang oleh Yunani di kawasan itu dalam beberapa bulan terakhir.
Menyebut langkah diplomasi Turki bedasarkan asas " kemanusiaan dan saling memberikan manfaat," Cavusoglu mengatakan negaranya melindungi hak dan kepentingannya di semua platform.
Mengatakan bahwa Turki selalu waspada terhadap "mata jahat dan rencana jahat," menlu negara itu menambahkan keamanan Turki berada di "tangan yang aman" yaitu "tentara heroik, industri pertahanan yang berkembang dan satelit yang dikirim ke luar angkasa."
"Kami memiliki proyek yang akan berkontribusi pada perdamaian dan kemakmuran tidak hanya di kawasan kami, tetapi juga di tingkat global," imbuh dia.
Peran global Turki
Terkait peran mediator Turki, Cavusoglu mengatakan: "Turki mengambil perannya dalam pencarian solusi untuk krisis dari Balkan hingga Timur Tengah, dari Kaukasus hingga Asia Tengah, dan dari Afrika hingga Amerika Latin."
Menlu Turki menegaskan kembali bahwa perjuangan Turki di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menghasilkan kesepakatan ekspor gandum Ukraina ke dunia.
"Kami melanjutkan proyek ini yang akan melindungi dunia dari krisis pangan," ujar dia.
Turki, PBB, Rusia, dan Ukraina menandatangani perjanjian di Istanbul pada 22 Juli untuk melanjutkan ekspor gandum dari tiga pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, yang dihentikan sementara setelah perang Rusia-Ukraina pada Februari lalu.
Pusat Koordinasi Gabungan di Istanbul ini diisi oleh pejabat dari tiga negara dan PBB telah didirikan untuk mengawasi pengiriman.
Sejak kapal pertama berlayar di bawah kesepakatan tersebut pada 1 Agustus, lebih dari 100 kapal telah membawa lebih dari 2,5 juta ton produk pertanian melalui koridor gandum itu.
news_share_descriptionsubscription_contact
