Ozcan Yildirim, Aylin Sirikli
ISPARTA, Turki
Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Minggu meminta dukungan untuk melaksanakan program-program jangka panjangnya melalui pemilihan umum 24 Juni nanti.
Berbicara dalam kampanye politik Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) di provinsi Isparta, Erdogan berujar bahwa pemilu yang akan datang ini adalah "pemilihan umum terpenting" dalam sejarah Turki.
"Kita akan membawa keberhasilan kita selama 16 tahun ini ke level yang lebih tinggi, atau mengizinkan 'aliansi perusak' [oposisi] menggagalkan semuanya," kata dia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki, partai-partai politik akan berpartisipasi dalam pemilu setelah membentuk aliansi.
Partai penguasa AK bersama Partai Gerakan Nasionalis (MHP) akan mengikuti pemilu dengan bendera Aliansi Kerakyatan (People's Alliance).
Partai Rakyat Republik (CHP) yang merupakan oposisi utama, bergabung dengan Partai Kebaikan (IYI), Partai Kebahagiaan (Saadet) dan Partai Demokrat dalam Aliansi Nasional (Nation's Alliance).
Mengkritik janji-janji kampanye lawannya, Erdogan berkata, "Kami tidak akan membiarkan 'aliansi perusak' [oposisi] menghalangi dan menyabotase program-program kami."
Dalam pidato yang disiarkan di teve pada Jumat, kandidat calon presiden dari CHP, Muharrem Ince, berjanji menghentikan Proyek Kanal Istanbul dan menghentikan produksi mobil dalam negeri bila terpilih kelak.
"Saya meminta dukungan besar Anda demi masa depan Turki yang cerah," kata Erdogan kepada pendukungnya.
Kemudian ketika berpidato di provinsi Balikesir, Erdogan menyangkal klaim Ince yang mengatakan bahwa Turki belum meminta ekstradisi resmi pemimpin Organisasi Teroris Fetullah (FETO), Fetullah Gulen.
Pada Kamis, Ince berkata dalam wawancara dengan sebuah saluran TV, bahwa dia menerima telepon dari AS yang mengatakan Turki gagal meminta proses ekstradisi Gulen.
"Jika Anda [Ince] benar-benar jujur dan tulus, bicaralah dengan MIT [Biro Intelijen Turki]. Katakan kepada mereka siapa yang memberikan informasi ini, Amerika atau pejabat Amerika," tukas Erdogan.
"Mereka ingin memimpin Turki tapi mereka melakukan kampanye pemilu menggunakan berita bohong dan fitnah yang ada di internet. Mereka menyebut 85 dokumen terkait FETO yang kami berikan kepada Amerika sebagai kliping koran," lanjut Erdogan.
Dia menambahkan, dalam kliping koran yang disebutkan Ince tersebut, ada dokumen-dokumen resmi yang telah disiapkan oleh Kementerian Kehakiman Turki.
Operasi anti-teror
Turki tidak pernah meninggalkan persatuan, kebersamaan, dan persaudaraan meskipun digempur oleh serangan dari dalam dan luar negeri, ujar Erdogan, termasuk serangan dari kelompok-kelompok teror FETO, PKK, dan Daesh.
Dia mengumumkan bahwa Turki telah menetralisir 4.480 teroris di Afrin, Suriah, sejak peluncuran Operasi Ranting Zaitun.
Erdogan juga mencatat bahwa operasi anti-teror juga menetralisir 419 teroris PKK di Irak utara dan 405 teroris di dalam negeri.
Otoritas Turki menggunakan kata "menetralisir" dalam pernyataan mereka untuk mengindikasikan teroris yang menyerah, terbunuh, atau ditangkap.
Erdogan akan mengadakan kampanye di 30 provinsi selama masa kampanye.
April lalu, parlemen mengesahkan undang-undang untuk mengadakan pemilihan umum pada 24 Juni, yang menandakan perubahan sistem pemerintahan Turki menjadi presidensial.
Dalam referendum yang diadakan pada April 2017, masyarakat Turki menyetujui beralihnya sistem pemerintahan parlementer menjadi presidensial.
Erdogan telah menjabat sebagai presiden sejak 2014 -- menjadikannya presiden pertama yang meraih suara mayoritas yang dipilih rakyat Turki. Sebelumnya, dia menjabat sebagai perdana menteri Turki dari 2003-2014.
Jika Erdogan kembali menang pada pemilu 24 Juni nanti, Erdogan akan menjadi pemimpin Turki pertama yang menjabat dengan sistem presidensial, menyingkirkan pos perdana menteri.
news_share_descriptionsubscription_contact


