Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan warga Kota Sarmi, Papua, yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun dan berusaha keluar rumah saat gempa berkekuatan M 6,2 mengguncang wilayah itu pada Kamis pukul 00.24 WIB.
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan guncangan gempa dirasakan dengan skala intensitas III-IV MMI di Kota Sarmi, II-III MMI di Sentani dan II MMI di Wamena.
“Di zona pusat gempa, kata Daryono, guncangan terasa hingga VI MMI, ini berarti jika di sekitar episentrum terdapat permukiman penduduk maka akan berisiko mengalami kerusakan,” ujar Daryono dalam keterangannya, Kamis.
Daryono mengatakan pusat gempa terletak pada koordinat 2,23 LS dan 138,53 BT, berjarak 45 km sebelah barat daya Kota Sarmi, dengan kedalaman dangkal 11 km.
Daryono memperkirakan gempa bersumber dari Sesar Naik Mamberamo, berdasarkan lokasi episentrum dan kedalaman hiposenternya.
Menurut analisis mekanisme sumber, lanjut Daryono, gempa dipicu adanya sesar miring.
Pantauan BMKG, ada gempa susulan pada pukul 00.43 WIB dengan kekuatan M 4,9.
“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut,” kata Daryono.
Daryono menerangkan, Memberamo merupakan kawasan yang amat rawan gempa.
BMKG mencatat sederet guncangan besar dalam sejarah yang merusak dan melanda Membramo, bahkan dengan intensitas hingga VIII MMI.
Gempa-gempa itu terjadi pada tahun 1916 berkekuatan M 8,1; pada 1926 berkekuatan M 7,9; pada 1950 berkekuatan M 7,2; pada 1963 berkekuatan M 6,3; 1971 berkekuatan M 8,1; 1981 berkekuatan M 5.9; pada 1986 berkekuatan M 6,7; 1987 berkekuatan M 6,6; 1987 berkekuatan M 6,8; dan 2015 berkekuatan M 7,2.
Daryono juga menerangkan jika secara tektonik gempa di Papua aktif dan kompleks.
Penyebab utamanya, lanjut Daryono, gempa Papua bersumber dari benturan lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Pasifik yang bergerak ke barat-selatan.
“Selain itu juga terdapat desakan lempeng kecil Filipina yang menambah kompleksitas tektonik Indonesia timur,” kata Daryono.
news_share_descriptionsubscription_contact
