Nasional

Meringankan beban mereka yang rentan di tengah pandemi Covid-19

Tidak semua orang bisa tinggal di rumah di tengah pandemi Covid-19, inisiatif penggalangan dana berupaya meringankan beban itu

Nicky Aulia Widadio, Muhammad Nazarudin Latief   | 24.03.2020
Meringankan beban mereka yang rentan di tengah pandemi Covid-19 Ilustrasi: Pengemudi ojek online menunggu pesanan. (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk bisa bekerja dari rumah dengan penghasilan tetap di tengah pandemi virus korona (Covid-19).

Setelah kasus Covid-19 yang terdeteksi terus bertambah, pemerintah mengkampanyekan agar masyarakat beraktivitas di rumah dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan mendesak di tengah situasi ini.

Namun sebagian orang masih harus bekerja demi menafkahi keluarganya, terutama mereka yang bertumpu di sektor informal seperti pedagang, pengendara ojek online, dan lain-lain.

Salah satu warga Jakarta Barat, Sumanto, 38, mengandalkan penghasilan sebagai ojek online untuk menopang kebutuhan istri dan satu orang anaknya.

Lebih dari satu pekan belakangan, Sumanto mengatakan pemesanan ojek lebih sepi dari biasanya. Dia lebih sering diam di satu tempat menanti pesanan dibandingkan berkendara mengantarkan pelanggan.

Sumanto biasanya bisa mengantarkan hingga 10 orang dalam satu hari, namun saat ini mendapatkan lima pesanan saja sudah cukup sulit. Alhasil, pendapatan Sumanto pun berkurang.

Sepinya pelanggan dia rasakan sejak sebagian warga Jakarta memilih beraktivitas di rumah demi menghindari penularan Covid-19. Kantor, ruang publik, tempat hiburan dan tempat rekreasi ditutup.

“Sejak orang-orang kerja dari rumah, anak sekolah libur, PNS juga libur, akhirnya sekarang sepi. Pendapatan jadi berkurang,” kata Sumanto kepada Anadolu Agency.

Sayangnya, Sumanto tidak seberuntung orang lain yang bisa tinggal di rumah karena dia bertumpu pada penghasilan harian.

Di sisi lain, dia mengaku cukup waswas berada di luar rumah dengan risiko penularan Covid-19 yang menghantui. Apalagi pekerjaan ini menuntut dia berinteraksi dengan banyak orang yang tidak dia kenal.

“Tapi kalau saya enggak jalan, keluarga mau dikasih makan apa?” ujar dia.

Sejauh ini Sumanto memilih untuk tetap bekerja dengan membekali dirinya dengan masker untuk melindungi dirinya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, ada 1,43 juta orang yang bekerja pada sektor informal pada 2018.

Artinya, Sumanto hanyalah satu dari sekian banyak pekerja sektor informal yang harus menanggung beban tambahan di tengah Covid-19. 

Seorang sopir angkutan perkotaan jurusan Jakarta Kota – Stasiun Tanah Abang, Usep mengaku penumpangnya turun drastis sejak ada seruan untuk bekerja dari rumah.

Jika sebelumnya ada sekitar 10-20 penumpang dalam satu kali perjalanan, kini dia hanya bisa mendapatkan 1-5 penumpang.

“Sekali jalan bisa hanya dapat Rp4 ribu. Buat beli bahan bakar aja tidak cukup,” ujar dia.

Dia tidak tahu bagaimana bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga.

Pada situasi normal, dia biasanya menerima pekerjaan serabutan, misalnya membantu tetangga membenahi rumah atau menjadi sopir pribadi. Namun dalam kondisi seperti ini dia tidak yakin bisa mendapatkan pekerjaan lain.

Galang dana untuk meringankan beban mereka yang rentan

Kepedulian masyarakat terhadap orang-orang yang rentan meningkat di tengah situasi sulit ini untuk meringankan beban orang-orang seperti Sumanto.

Tujuannya agar mereka bisa ikut tinggal di rumah dan berkontribusi menekan risiko penularan Covid-19 tanpa memusingkan kebutuhan dasar rumah tangga mereka.

Platform penggalangan dana Kitabisa.com menjadi salah satu yang banyak digunakan untuk mengumpulkan donasi bagi pekerja sektor informal hingga petugas kesehatan yang berada di garda depan penanganan virus korona.

Juru bicara Kitabisa.com Fara Devara mengatakan sejauh ini sudah ada 591 halaman galang dana sejak pertama kali muncul pada 12 Maret 2020. Total donasi yang terkumpul telah mencapai Rp31 miliar.

Penggalangan dana tersebut ditujukan untuk tenaga kesehatan yang kekurangan alat perlindungan diri, masyarakat tidak mampu, serta pekerja sektor informal.

“Mereka yang bekerja di sektor informal juga menjadi prioritas penyaluran donasi, ada beberapa halaman galang dana yang khusus ditujukan untuk pekerja sektor informal,” kata Fara kepada Anadolu Agency, Selasa.

“Bantuan diberikan dalam bentuk kebutuhan pokok sehari-hari serta safety kit, agar bisa membantu mereka tetap aman meski tinggal di rumah,” lanjut dia.

Bantuan itu disalurkan melalui sejumlah lembaga swadaya masyarakat, yayasan, serta jejaring komunitas lokal.

Selain itu, penggalangan dana untuk petugas kesehatan juga menjadi prioritas.

Sebelumnya, petugas medis di Tasikmalaya menggunakan jas hujan saat mengevakuasi suspect kasus Covid-19 karena baju hazmat tidak tersedia.

Hasil penggalangan dana untuk petugas medis ini, menurut Fara, akan disalurkan melalui puluhan rumah sakit. Bantuan itu juga berupa makanan bergizi dan alat bantu medis lainnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Yayasan Gerakan Indonesia Sadar Bencana (Graisena).

Bermodal dana kas dari para anggota, Yayasan Graisena bersedia memenuhi kebutuhan dasar bagi keluarga yang nafkah utamanya harus diisolasi akibat Covid-19.

Ketua Yayasan Graisena, Agung Firmansyah mengatakan bantuan itu ditujukan agar yang bersangkutan bisa mengisolasi diri sesuai anjuran pemerintah dengan tenang tanpa memikirkan kelangsungan hidup keluarganya.

Dengan demikian, juga bisa menekan potensi penyebaran virus lebih lanjut dari orang tersebut.

“Kami berpikir jika salah satu atau beberapa orang yang diisolasi berasal dari masyarakat kalangan bawah yang nafkah keluarganya bertumpu pada dia, bagaimana pemenuhan kebutuhan dasar selama masa isolasi,” kata Agung. 

Sejauh ini sudah ada belasan keluarga yang mengajukan diri untuk menerima bantuan yang terdiri dari tenaga honorer hingga karyawan.

Menurut Agung, bantuan akan disalurkan berupa uang tunai untuk kebutuhan selama 14 hari masa isolasi.

Perhitungannya yakni setiap anggota keluarga akan diberikan Rp20 ribu per hari. Jadi jika satu keluarga terdiri dari empat orang maka mereka akan menerima Rp80 ribu per hari selama 14 hari.

Yayasan Graisena hingga saat ini masih membuka pengajuan bantuan bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan.

“Dengan jaminan kepada keluarga yang ditinggalkan selama isolasi itu, kita menghendaki agar warga yang terdampak, didiagnosis, ada kemungkinan suspect korona, atau ODP, untuk mematuhi imbauan pemerintah,” ujar Agung.

“Kalau harus diisolasi, ya isolasi saja, tidak perlu mikirin keluarga yang ditinggalkan,” lanjut dia.

Kelompok informal paling rentan

Pekerja informal, adalah merupakan kelompok terbesar dalam angkatan kerja Indonesia, jumlahnya pada 2019 sekitar 74 juta jiwa dari total angkatan kerja sebanyak 136 juta jiwa.

Menurut Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi (Akses), sektor informal paling terdampak wabah ini, baik secara ekonomi maupun kesehatan.

Selain sektor informal, ada kelompok rentan lain yaitu penganggur terbuka, sektor usaha mikro, pekerja outsourcing dan buruh tani.

Jumlahnya juga besar, pengangguran terbuka sebanyak 5 persen atau 6,8 juta orang dari 136 juta angkatan kerja. Sedangkan usaha mikro mencapai 99 persen dari 63 juta pelaku usaha.

Sedangkan buruh tani jumlahnya adalah 74 persen dari jumlah petani di Indonesia yang mencapai 35 juta orang.

“Mereka menjadi rentan karena usahanya juga bersifat subsisten atau cukup hanya untuk bertahan hidup dengan penghasilan hari ini habis untuk hari ini juga,” ujar Suroto pada Anadolu Agency.

“Tidak memiliki tabungan atau harta benda yang berarti untuk digadaikan atau yang lainya.”  

Mereka tidak punya cukup uang untuk dibelanjakan, tidak punya persediaan makan bahkan tidak memiliki perlindungan sosial maupun kesehatan yang memadai.

Keselamatan mereka tidak hanya menjadi paling mudah terancam wabah penyakit, tapi juga terancam hidupnya karena kesulitan mencari sumber pendapatan, ujar Suroto.

Menurut Suroto, dalam situasi seperti ini, pemerintah perlu membuat kebijakan alokasi fiskal yang langsung menyasar pada kelompok rentan.

Misalnya bantuan langsung bagi para pengangguran terbuka dan mereka yang kehilangan pekerjaan dan usahanya  karena dampak wabah minimal untuk bertahan hidup selama 3-4 bulan.

Selain itu perlu mengembangkan diskresi pajak lebih tinggi bagi seluruh kegiatan bisnis skala menengah dan besar dan pajak kekayaan orang dengan kepemilikan asset di atas  Rp1,5 miliar.

“Pemerintah juga bisa mengajak bisnis yang masih beroperasi seperti produsen makanan dan jalur distribusinya untuk merekrut tenaga kerja temporer dari kelompok rentan,” ujar dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.