Erric Permana
22 Juli 2020•Update: 23 Juli 2020
JAKARTA
DPR mengkritik rencana Kementerian Pertahanan untuk membeli 15 pesawat Eurofighter Typhoon bekas dari Pemerintah Austria.
Anggota Komisi I Effendi Muara Sakti Simbolon meminta Kementerian Pertahanan untuk tidak lagi membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) bekas.
Sebab saat ini kondisi alutsista TNI sangat memprihatinkan.
Selain itu juga kata Politisi PDI perjuangan ini, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto tidak pernah atau menjelaskan rencana strategis (renstra) pemerintah dalam memperbaharui alutsista TNI.
"Seperti apa gambaran renstra pertahanan kita ke depan, apakah mengacu ke Angkatan Darat, atau Angkatan Darat yang berbasis teknologi, kita tidak pernah dengar dari dia," kata Effendi kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon.
Indonesia berencana membeli pesawat tempur Eurofighter Typhoon bekas sebanyak 15 unit dari pemerintah Austria.
Rencana pembelian ini muncul dari beredarnya surat Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kepada Menteri Pertahanan Austria Klaudia Tanner tertanggal 10 Juli 2020 lalu.
Dalam surat tersebut, Prabowo mengatakan 15 unit pesawat Eurofighter Typhoon yang dibeli Austria pada 2002 lalu untuk memenuhi kebutuhan militer Indonesia dalam melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Dia pun menjelaskan bahwa dirinya sangat terkesan dengan teknologi alutsista yang dimiliki oleh negara-negara Eropa.
Prabowo berharap dengan usulan rencana pembelian tersebut akan menguntungkan kedua negara.
Sebelumnya, 15 unit pesawat tempur Eurofighter Typhoon yang dibeli Austria dari Airbus pada 2003 lalu diwarnai masalah dugaan skandal suap.
Pemerintah Austria menuding Airbus saat itu memberi suap sejumlah pejabat dan tidak memberi tahu secara resmi harga penjualan pesawat dalam proyek pengadaan senilai USD2 miliar itu.
Prabowo Subianto pun dalam suratnya telah mengetahui informasi permasalahan pengadaan itu dan dampaknya hingga saat ini.
"Saya sangat paham betapa sensitifnya permasalahan ini," seperti dikutip dalam surat tersebut.
Juru Bicara Menteri Pertahanan Dahnil Anzar Simanjuntak enggan berkomentar terkait rencana pembelian pesawat tempur dari Austria.
Menanggapi rencana pembelian itu, Pengamat Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi mempertanyakan urgensi pemerintah membeli pesawat tersebut.
"Poinnya bukan bekasnya tapi apakah itu betul-betul sangat dibutuhkan? Apakah itu memang sesuai dengan kebutuhan armada kita," kata Khairul Fahmi kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon pada Senin.
Sebab kata dia, banyak isu dan rumor mengenai pembelian alutsista oleh pemerintah Indonesia namun hingga kini tidak jelas kelanjutannya.
Khairul Fahmi juga meminta Prabowo Subianto menjelaskan apakah rencana pembelian pesawat dari Austria tersebut untuk mengganti atau membatalkan rencana lainnya.
Seperti dikutip pada laman Airbus, Eurofighter merupakan pesawat jet multifungsi paling modern.
Pesawat ini dilengkapi dengan dua mesin Eurojet EJ200 sehingga bisa menghasilkan daya dorong dan kemampuan manuver yang baik.
Airbus menyebut pesawat ini memiliki mode senyap dan juga dilengkapi radar AESA.