Nasional

Cakupan imunisasi dasar menurun akibat pandemi Covid-19

Kementerian Kesehatan mengatakan imunisasi harus tetap berjalan untuk mencegah risiko terjadinya wabah dari penyakit yang semestinya bisa dicegah dengan imunisasi

Nicky Aulia Widadio   | 03.06.2020
Cakupan imunisasi dasar menurun akibat pandemi Covid-19 Ilustrasi: Imunisasi. (FABIO TEIXEIRA - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Indonesia turun hingga 19,7 persen pada Maret-April 2020 sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang mengatakan situasi ini meningkatkan risiko wabah dari penyakit yang semestinya bisa dicegah dengan imunisasi seperti difteri, campak, polio dan rubella.

“Kita perlu ingatkan semua orang tua dan petugas kesehatan agar anak tetap mendapatkan imunisasi, meski delay tetapi tetap lengkap,” kata Vensya melalui webinar, pada Selasa.

Menurut Vensya, cakupan IDL meningkat 25,5 persen pada Januari 2020 dibandingkan Januari 2019 dan meningkat 7,6 persen pada Februari 2020 dibandingkan Februari 2019.

Penurunan terjadi mulai Maret 2020, seiring ditemukannya kasus Covid-19 di Indonesia.

Jumlah anak yang mendapat imunisasi turun 4,9 persen (53.558 orang) dibandingkan Maret 2019.

Pada April 2020, cakupan IDL menurun 19,7 persen (245.661) orang dibandingkan April 2019.

“Jangan sampai ada second wave pandemi, tapi bukan Covid-19 melainkan penyakit yang sebenarnya bisa kita cegah dengan imunisasi,” lanjut dia.

Riset yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan UNICEF terhadap 5.329 fasilitas kesehatan di Indonesia menunjukkan bahwa 84 persen responden mengatakan layanan imunisasi terganggu akibat Covid-19.

Mayoritas gangguan layanan tersebut terjadi di puskesmas dan posyandu.

Vensya mengatakan penerapan protokol kesehatan perlu dilaksanakan agar pelayanan imunisasi tetap berjalan.

Misalnya, petugas kesehatan menggunakan alat pelindung diri seperti masker, face shield, dan sarung tangan.

Alur pelayanan terhadap anak-anak yang hendak diimunisasi juga harus dipisah dengan pelayanan terhadap anak-anak yang sakit.

"Pemisahan anak yang sehat dan sakit juga harus dilakukan sejak awal, sehingga orang tua yakin bahwa anaknya datang dan dapat perlindungan bahwa anaknya tetap sehat, tidak menimbulkan ketakutan," jelas dia.

Sekretaris III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Catharine Sambo juga mengingatkan agar orang tua tetap memastikan hak imunisasi anak tetap terjaga meski di tengah pandemi.

"Pandemi membuat orang tua dan petugas kesehatan ragu untuk imunisasi sehingga jadwalnya terlambat," kata Catharine.

Padahal, lanjut dia, ada beberapa imunisasi harus dilaksanakan sesuai jadwal seperti HB0 (Hepatitis B), polio, DPT (difteri, pertusis dan tetanus), BCG (tuberkulosis) dan MR (campak).

IDAI meminta orang tua juga ikut mencari cara agar imunisasi bisa terlaksana dalam situasi yang paling aman bagi anak.

Misalnya dengan membuat janji kunjungan dan datang sesuai jadwal untuk menghindari antrean atau kerumunan di fasilitas kesehatan.

"Pastikan juga di hari itu anak dan yang mengantar dalam kondisi sehat,” tutur dia.

IDAI juga mengingatkan agar pengantar anak saat imunisasi dibatasi sekitar satu atau dua orang agar tidak terjadi kerumunan orang di fasilitas kesehatan.

Protokol kesehatan seperti jaga jarak, menggunakan masker, hingga cuci tangan secara rutin juga perlu dilakukan.

Catharine juga menyarankan agar anak atau orang tua yang sedang sakit atau baru kembali dari daerah pandemik sebaiknya menunda kunjungan.

Untuk jadwal imunisasi yang sudah terlewat, IDAI menyarankan agar orang tua merencanakan imunisasi kejar berdasarkan catatan imunisasi anak sebelumnya.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.