Nasional

AJI Surabaya kecam tindakan Hong Kong deportasi jurnalis Indonesia

“Yang dialami Yuli menjadi bukti semakin buruknya kebebasan berekspresi di era demokrasi,” kata Ketua AJI Surabaya, Miftah Faridl

Nicky Aulia Widadio   | 03.12.2019
AJI Surabaya kecam tindakan Hong Kong deportasi jurnalis Indonesia Ilustrasi. (Foto file-Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya mengecam tindakan pemerintah Hong Kong yang mendeportasi buruh migran sekaligus jurnalis warga, Yuli Arista.

Pemerintah Hong Kong juga sempat menjebloskan Yuli ke tahanan Pusat Imigrasi Castel Peak Bay selama 28 hari.

Yuli akhirnya kembali ke Indonesia pada Senin, 2 Desember 2019 dan berada di lokasi aman untuk pemulihan kesehatan.

Ketua AJI Surabaya, Miftah Faridl mengatakan penahanan yang berujung deportasi ini diduga dilakukan pemerintah Hong Kong yang dilakukan oleh Yuli.

Yuli telah 10 tahun menjadi buruh migran di Hong Kong dan rutin melakukan reportase berupa tulisan maupun foto dari titik demonstrasi.

Menurut Miftah, Yuli menyajikan informasi itu melalui media alternatif bernama Migran Pos yang digagas bersama sejumlah pekerja migran.

“Yuli menyajikan informasi dari narasumber yang ada di lokasi ketimbang hanya informasi dan peringatan normatif yang diberikan perwakilan Indonesia dalam hal ini KJRI Hong Kong,” kata Miftah melalui keterangan tertulis, Selasa.

“Yang dialami Yuli menjadi bukti semakin buruknya kebebasan berekspresi di era demokrasi,” lanjut dia.

Polisi Hong Kong menangkap Yuli pada 23 September 2019. Dia kemudian mengajukan banding pada 4 November, dimana Yuli dinyatakan tidak bersalah karena minimnya bukti yang diajukan kepolisan.

Yuli kemudian dituduh melewati masa izin tinggal sehingga dijebloskan ke tahanan.

Melalui siaran pers yang dibuat AJI Surabaya, Yuli mengaku diperlakukan tidak manusiawi selama di dalam tahanan.

“Dalam penahanan saya ada banyak kejanggalan dan saya juga menemuka teman-teman saya sesama, kami bukan kriminal tetapi diperlakukan lebih dari orang-orang yang ada di penjara,” ujar Yuli.

Sebelumnya, jurnalis asal Indonesia bernama Veby Mega Indah tertembak oleh polisi Hong Kong ketika meliput bentrokan pada 29 September 2019.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.