Pizaro Gozali İdrus
31 Oktober 2017•Update: 01 November 2017
JAKARTA, Indonesia (AA) -- Relasi Islam dan Katolik di Indonesia bisa menjadi contoh dunia soal kerukunan beragama, ujar Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban Din Syamsuddin.
Kedua penganut agama ini, kata Din, hidup rukun berdampingan, “Sekalipun ada masalah, itu masih bisa diselesaikan,” ujar dia saat mengunjungi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Jakata, Selasa.
Din tak menampik masih adanya problematika antara kaum muslim dan Katolik di sejumlah tempat.
Oleh karena itu dia mengusulkan agar kedua kelompok bisa bicara dari hati ke hati soal sejumlah ganjalan seperti isu pernikahan beda agama dan pendirian rumah ibadah.
Din mengaku pihaknya sudah memprakarsai pertemuan-pertemuan untuk membangun kerukunan antara agama, khususnya dengan penganut Katolik. Salah satunya dengan terlibat pada Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) untuk membangun dialog antaragama.
“Bahkan Muhammadiyah Disaster Management Centre membangun kerja sama dengan Catholic Relief Services untuk isu bencana,” tambah dia.
Din mengatakan peran kelompok Katolik tak bisa dipinggirkan dari kehidupan Indonesia sebagai bangsa, mereka turut berperan menjadi founding father bangsa.
Indonesia, kata Din, memiliki modal kuat berupa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk menyelesaikan konflik agama.
“Untuk menyelesaikan konflik di Palestina saya mengajak peran serta kelompok Katolik, tentu kerja sama serupa bisa digunakan juga untuk menyelesaikan konflik di dalam negeri,” jelas dia.
Oleh karena itu, dia menggagas pertemuan puncak pemimpin agama pada awal 2018 nanti, tujuannya untuk membahas problematika riil di lapangan.
“Jadi kita tak lagi bicara konsep, tapi sudah langkah nyata,” kata dia.
Peran Katolik dalam kehidupan berbangsa
Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Ignatius Sunaryo mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap warga Katolik di Indonesia, khususnya dalam upaya menampung aspirasi warga Katolik.
“Kami mengenal Pak Din Syamsuddin sudah memiliki pengalaman banyak dalam dialog antar agama dan peradaban,” jelas dia.
Sejak lama, kata Ignatius, kelompok Katolik sudah berkontribusi dalam pembangunan dan perjuangan bangsa.
“Rapat pertama Sumpah Pemuda dilakukan di Gedung Pemuda Katolik,” ujar dia.
Dia pun mengaku kerap mengajak warga Katolik untuk merenungi peran serta katolik dalam sejarah bangsa Indonesia. “Dulu kita mengenal Soegijapranata sebagai pejuang kemerdekaan,” jelas dia.
Ignatius pun menyambut baik usulan utusan presiden untuk menggelar dialog antaragama, khususnya dengan umat Islam. “Diharapkan tidak hanya di Indonesia, tapi juga dunia,” ungkap dia.