Pizaro Gozali
14 September 2017•Update: 14 September 2017
Pizaro Gozali
JAKARTA
Indonesia melalui Medical Rescue Comittee (Mer-C) dan Palang Merah Indonesia (PMI) sedang membangun rumah sakit di daerah Mrauk U, Rakhine, Myanmar.
"Pembangunan rumah sakit ini sudah dimulai sejak bulan Mei 2017 dan direncanakan rampung tahun depan," ujar Presidium Mer-C, Sarbini Abdul Murad kepada Anadolu Agency di Jakarta, Kamis.
Sarbini mengatakan, dana untuk membangun rumah sakit ini menelan biaya 1,9 Juta US Dollar.
"Rumah sakit nantinya akan menampung pasien dari umat Islam dan Budha," jelas dia.
Rumah sakit ini ditargetkan memiliki kapasitas 20 tempat tidur, dengan tenaga medis dari Myanmar.
"Kita juga berpikir membuat water treatment karena Rakhine kesulitan air. Jadi rumah sakit ini bisa berfungsi dengan baik," katanya.
Dengan pendirian rumah sakit ini di Rakhine, Sarbini mengatakan, ada misi pesan kerukunan beragama dari Indonesia di dalamnya.
"Indonesia adalah negara yang rukun. Salah satu simbolnya adalah Candi Borobudur yang di sekelilingnya berdiri kampung-kampung muslim," jelas dia.
Sampai saat ini, Sarbini mengaku belum ada kendala dalam proses pendirian rumah sakit.
"Termasuk saat terjadi tragedi 25 Agustus, kontraktor bilang jalan terus," katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian PMI Ginandjar Kartasasmita menjelaskan pembangunan rumah sakit ini murni berasal dari inisiatif Mer-C yang mengumpulkan dana masyarakat.
"Jadi ini bukan inisiatif pemerintah. Tapi bahwa pemerintah memberikan perhatian dan dukungan itu jelas," kata dia.
Dia menambahkan, pendirian rumah sakit ini sama sekali tak terkait dengan peristiwa yang terjadi belakangan ini.
"Tapi tragedi akhir membuat kita merasa perlu mpercepat pembangunan rumah sakit ini," ujarnya.
Mendapat dukungan penuh dari pemerintah
Di tempat terpisah, pemerintah Indonesia menyatakan dukungan penuh dalam proyek pendirian rumah sakit Indonesia ini.
"Selama ini pemerintah memfasilitasi langkah Mer-C dan PMI di lapangan," ujar Staff Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Salman Al Farisi, di Jakarta, Kamis.
Salman menambahkan, rumah sakit ini menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan antara pemerintah Indonesia dan Myanmar karena bantuan yang diberikan bersifat inklusif.
"Kita membantu kelompok masyarakat yang mengalami kesusahan karena konflik," jelas Salman.
Selain itu, Kemlu menilai pendirian rumah sakit juga sudah sesuai dengan rekomendasi komisi PBB untuk Rakhine, yang diketuai Kofi Annan dan telah disetujui pemerintah Myanmar.
"Antara lain memperluas pelayanan kesehatan bagi masyarakat termasuk peningkatan kapasitas tenaga kesehatan," tukas Salman.
Pemerintah, lanjut Salman, melalui kerjasama Selatan-Selatan juga siap memfasilitasi dan mensponsori peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dari Myanmar.