14 Desember 2017•Update: 15 Desember 2017
İSTANBUL
Presiden Palestina Mahmoud Abbas turut hadir dalam Konferensi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang diselenggarakan oleh Turki.
Abbas mengatakan bahwa Inggris sebagai negara mitra Amerika Serikat (AS) selalu mengikuti semua kesepakatan dan aksi AS yang terjadi di dunia. Inggris selalu memberikan dukungan kepada AS dalam tiap langkahnya dan Inggris akan memenuhi janjinya kepada Israel untuk memberikan dukungan (PBB) tepat 100 tahun yang lalu.
“Presiden AS Donald Trump memberikan Yerusalem sebagai hadiah kepada Israel. Seolah-olah Yerusalem merupakan wilayah negara bagian AS. Namun tak disangka, untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara-negara di dunia tidak memberikan dukungannya kepada AS soal keputusan AS,” kata Abbas.
Abbas mengatakan bahwa pada awalnya Inggris, kemudian AS negara yang merampas tanah Palestina dan menyerahkannya ke Israel. Namun tak menjadi masalah, karena seluruh lembaga internasional dan masyarakat dunia telah bersatu melawan keputusan AS, mereka tidak akan membiarkan langkah AS tersebut terwujudkan.
Abbas menekankan bahwa suatu saat umat Islam, umat Kristiani dan seluruh dunia akan memperoleh kemenangan.
Dia menyerukan kepada seluruh umat Islam dan seluruh masyarakat dunia termasuk umat Kristiani untuk bersama-sama melawan penjajahan terhadap Yerusalem, dan bersama-sama berdiri tegak dalam menghadapi upaya pengubahan identitas Kudus ini.
“Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Palestina menjadi negara yang diakui.”
Abbas menyatakan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi ibu kota Palestina dahulu, sekarang dan selamanya.
Presiden Palestina ini berterimakasih kepada Turki dan rakyat Turki atas dukungan yang diberikan kepada Palestina.
Tanpa adanya Yerusalem perdamaian dan stabilitas tidak akan ada di wilayah Timur Tengah.
Keputusan Trump di Yerusalem adalah pelanggaran yang jelas terhadap hukum dan kesepakatan internasional serta resolusi PBB. Berdasarkan keputusan PBB, tidak satupun negara termasuk AS dapat memindahkan kedubesnya ke Yerusalem dan Abbas juga mengajak rakyat Palestina dan LSM untuk bersatu memperjuangkan kedaulatan Palestina.
Dia mengatakan bahwa keputusan yang diambil oleh AS tidak berlaku dan ilegal, yang dilakukannya hanyalah pelanggaran hukum Internasional.
“Dengan demikian, AS sekarang kehilangan wewenang untuk menjadi perantara dalam proses perdamaian, dan kita tidak akan pernah membiarkan AS untuk menjadi perantara proses perdamaian selanjutnya," kata Abbas.
Presiden Palestina Abbas menyatakan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi ibu kota abadi Palestina dan perdamaian tidak akan terjadi jika Yerusalem tidak menjadi ibu kota Palestina.
Langkah yang sepihak dan salah ini hanya akan memicu aksi radikal kelompok Yahudi, permasalahan politik akan berubah menjadi konflik antar agama dan dikhawatirkan timbulnya perpecahan yang besar.