Sibel Ugurlu
ANKARA
Menteri luar negeri Turki mengatakan pada Rabu bahwa Suriah dan Irak masih terancam oleh kelompok teroris Daesh, al-Qaeda, al-Nusra, PKK, dan PYD/YPG.
Berbicara di sela-sela Majelis Umum PBB, Mevlut Cavusoglu mendesak komunitas internasional untuk bersatu, mengatakan "tidak ada negara yang bisa melawan ancaman ini sendiri".
Cavusoglu menggarisbawahi fase baru dalam perang melawan terorisme.
"Di Suriah dan Irak, kami mampu melontarkan pukulan besar kepada Daesh. Kami tidak lagi berbicara tentang sebuah struktur yang mirip negara dengan sumber keuangan besar, namun ancaman belum berakhir," kata Cavusoglu.
"Jika Anda tidak menemukan solusi politik yang berkelanjutan di Suriah, teroris akan terus mengeksploitasi situasi."
Dia menambahkan bahwa Daesh dan kelompok teroris lainnya hanyalah gejala dari masalah yang lebih besar yang akar masalahnya harus diatasi.
Peluang untuk solusi politik di Suriah
Mengutip perjanjian 17 September antara Turki dan Rusia untuk menciptakan zona demiliterisasi di Idlib, Suriah, Cavusoglu mengatakan "Ada peluang lain untuk solusi politik di Suriah."
"Oleh karena itu, kita perlu melakukan yang terbaik untuk mendorong PBB dan Utusan Khusus PBB untuk Suriah De Mistura untuk membentuk komite konstitusi dan juga mendorong kedua belah pihak, rezim dan oposisi, untuk memulai negosiasi yang bermakna untuk solusi politik yang langgeng," ungkapnya.
Turki dan Rusia juga menandatangani nota kesepahaman yang menyerukan "stabilisasi" zona de-eskalasi Idlib, di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Di bawah perjanjian itu, kelompok-kelompok oposisi di Idlib akan tetap di daerah-daerah di mana mereka sudah berada, sementara Rusia dan Turki akan melakukan patroli bersama di daerah itu untuk menangkal pertempuran baru.
Cavusoglu juga memperingatkan untuk tidak bermitra dengan kelompok teroris lainnya saat memerangi Daesh -- mengacu pada dukungan AS untuk PKK/PYD dan PKK/YPG -- mengatakan "Jika tidak, kita akan menciptakan ketidakstabilan lebih lanjut di Suriah atau di tempat lain."
- Operasi lintas batas
Menyinggung operasi kontra-terorisme lintas-perbatasan Turki di Azaz, Jarabulus, dan Afrin Suriah, dia mengatakan operasi ini bukan hanya bersifat militer.
"Kami juga bertujuan untuk menghilangkan kondisi kemanusiaan yang mengerikan dan mengatasi kekosongan gubernur yang memungkinkan kelompok-kelompok teroris untuk berkembang," tambahnya.
Operasi Perisai Eufrat, yang dimulai pada Agustus 2016 dan berakhir pada Maret 2017, bertujuan untuk menghilangkan ancaman teroris di sepanjang perbatasan Turki dengan penggunaan Tentara Pembebasan Suriah, yang didukung oleh artileri dan pesukan pelindung udara Turki.
Pada 20 Januari, Turki meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk menyingkirkan teroris YPG/PKK dan Daesh dari wilayah Afrin, Suriah barat laut. Pada 18 Maret, pasukan Turki dan anggota Tentara Pembebasan Suriah membebaskan Kota Afrin.
Pada Juni, pasukan Turki dan AS mulai berpatroli di Manbij Suriah sejalan dengan kesepakatan yang berfokus pada penarikan kelompok teror YPG yang berafiliasi dengan PKK dari kota di utara Suriah itu untuk menstabilkan kawasan itu.
Cavusoglu juga mengatakan bahwa peningkatan kerja sama, pembagian informasi dengan mitra dan unit analisis krisis yang didirikan di lokasi-lokasi penting di Turki membantu mengacaukan kemampuan teroris asing untuk bergerak bebas.
Cavusoglu menekankan bahwa upaya Turki berkontribusi pada keamanan regional dan keselamatan orang-orang di luar perbatasannya.
"Turki memikul beban yang sangat besar. Namun, kami tidak mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat internasional. Namun upaya kami akan terus berlanjut untuk menjamin keamanan bersama dan juga untuk membantu orang-orang yang rentan dan putus asa yang datang dari semua negara di kawasan ini."
news_share_descriptionsubscription_contact
