Muhammad Latief
JAKARTA
Kode Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) Gunung Soputan di Sulawesi Utara menjadi “merah” setelah erupsi pada Rabu pukul 08.47 WITA, demikian pengumuman yang dikeluarkan oleh Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Rabu.
Kode ini berarti, gunung tersebut telah melewati fase erupsi dan terlarang bagi maskapai untuk menerbangkan pesawat di wilayah gunung. Kode VONA gunung ini sebelumnya adalah “oranye”.
Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa Gunung Soputan meletus dan mengeluarkan abu vulkanik. “Erupsi dan emisi abu masih berlangsung,” tulis pengumuman tersebut.
Estimasi tinggi letusan tersebut sekitar 6.809 meter di atas permukaan laut, namun bisa lebih tinggi jika diamati dari titik yang lebih jelas.
Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani mengatakan gunung Soputan mengeluarkan abu setinggi 4.000 m dari atas puncak, atau 5.809 m di atas permukaan laut.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga coklat, dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut,” ujar Kasbani, Rabu, dalam siaran pers.
Saat ini, kata Kasbani, Gunung Soputan berstatus Siaga. Untuk menghindari potensi ancaman guguran lava dan awan panas, PVMBG merekomendasikan agar masyarakat tidak berada di dalam radius 4 km dari puncak, dengan perluasan sektoral ke barat dan barat daya sejauh 6,5 km dari puncak.
VONA dikirim oleh pemerintah pada pihak-pihak yang berkepentingan dalam dunia penerbangan baik nasional maupun internasional. Antara lain Ditjen Perhubungan Udara-Kementerian Perhubungan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Air Nav, Air Traffic Control, Airlines, Volcanic Ash Advisory Centers (VAAC) Darwin, dan VAAC Tokyo.
Debu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan, seperti merusak bilah turbin jika masuk ke dalam mesin. Debu vulkanik yang meleleh akan membeku pada bilah turbin, menggumpal, dan melapisinya sehingga menghalangi aliran udara normal. Dengan begitu mesin akan kehilangan tenaga atau mati.
Dampak lain, gumpalan debu vulkanik juga dapat melapisi sistem sensor suhu bahan bakar. Akibatnya, sensor akan memberikan informasi palsu, membuat indikator yang salah dengan menyatakan mesin dalam kondisi dingin. Pemakaian bahan bakar meningkat, terjadi kenaikan panas dan berujung pada kerusakan turbin dan mati mesin.
Debu vulkanik dapat merusak kaca kokpit pesawat dengan konturnya yang tajam. Kondisi ini bisa terjadi saat pesawat melaju dengan kecepatan di atas 500 mil/jam. Pandangan pilot yang sangat terbatas akan membuat penerbangan menjadi berbahaya.
news_share_descriptionsubscription_contact
