Nasional

Kisah pengungsi Bali menanti erupsi

Anak-anak didampingi, tapi masalah kesehatan mulai muncul

Megiza Asmail  | 27.09.2017 - Update : 28.09.2017
Kisah pengungsi Bali menanti erupsi I Gusti Putu Semadi Putra, seorang guru Bahasa Inggris yang sehari-harinya mengajar di SMP 1 Amblapura, menjadi salah satu pengungsi di Posko Ulakan, Karangasem, Bali, yang menanti Gunung Agung erupsi, 27 September 2017. (Megiza Asmail - Anadolu Agency)

Bali

Megiza Asmail

BALI

Ayu Cinthya Pradnyani, 10, tampak senang saat masuk ke dalam perpustakaan keliling yang kini disiagakan di pos pengungsian erupsi Gunung Agung di Kampung Ulakan, Manggis, Karangasem, Bali.

Ribuan buku tersedia dengan gratis untuk dilahapnya selama meninggalkan rumah dan hidup dalam tenda pengungsian, hingga entah berapa hari ke depan.

Bersama teman-teman sebayanya, Ayu asyik membaca buku-buku cerita di rak susun tiga di dalam mobil berwarna biru itu. Area duduk di antara rak yang hanya berukuran kurang dari satu meter bukan masalah besar baginya. Yang penting, ada banyak buku menarik di sekelilingnya.

“Senang lah baca buku. Gambarnya bagus-bagus. Ceritanya juga lucu,” kata dia.

Selama masa pengungsian sejak Gunung Agung diberi status Awas pada Jumat, 22 September lalu, Ayu bersama puluhan teman sebayanya memang terpaksa tak dapat lagi menikmati hari-hari seperti biasanya. Namun, berbagai cara dibuat oleh Pemerintah Provinsi Bali untuk tetap memberikan kenyamanan untuk anak-anak pengungsi.

Jika Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Bali menyediakan perpustakaan keliling, maka Dinas Sosial setempat menurunkan dukungan pelatihan psikososial untuk anak-anak pengungsi.

Beberapa pelatih mengajak anak-anak berinteraksi agar tidak menyimpan trauma selama hidup dalam pengungsian. Mereka melatih anak-anak untuk tetap merasa bahagia meski harus menjalani hari-hari di tenda pengungsi.

“Banyak teman-teman di sini. Belum bosan, sih,” kata Kadek Purwaningsih, 12, yang mengaku tetap bisa bersekolah karena dapat melanjutkan pelajarannya di sekolah di dekat posko pengungsian yang telah ditunjuk.

Jika anak-anak pengungsi tidak merasa kesulitan selama tinggal di pengungsian, maka lain halnya dengan I Gusti Putu Semadi Putra, seorang guru Bahasa Inggris yang sehari-harinya mengajar di SMP 1 Amblapura.

Dia mengatakan, selama pengungsian, guru-guru tetap diminta untuk mengajar meski tidak di sekolah asalnya. Memberikan pelajaran di SMP 1 Manggis memang tak jadi masalah berat baginya. Hanya saja tenda tempat dia mengungsi, menurutnya, agak tidak nyaman untuk ditinggali.

Di dalam tenda yang ditempati kurang lebih sepuluh Kepala Keluarga, Semadi sempat kebanjiran. Meski belum genap satu minggu ditempati, namun tenda tempatnya berteduh itu tidak luput dari rendaman air saat hujan turun di malam hari.

“Masalahnya itu kontur tanah di lapangan ini menurun dan tenda kami berada di bagian bawah. Sudah berapa hari ini, kalau hujan tengah malam, kami tidak tidur karena air masuk ke tengah-tengah tenda,” kata dia.

Cuaca hujan yang tak menentu dan udara yang cukup lembap di area pengungsi seperti itu diakui oleh Gede Yuhana, salah satu dokter dari Rumah Sakit Umum Karangasem, sebagai penyebab munculnya masalah kesehatan di sekitar pengungsi.

“Paparan matahari tapi juga lembap membuat pengungsian ini tak higienis. Sudah itu, pengungsi juga sebenarnya kekurangan handuk. Makanya masalah penyakit kulit paling mudah ditemui di pos-pos pengungsian,” kata dia.

RSU Karangasem sendiri menurunkan 21 tenaga medis untuk melayani pengungsi di Pos Kampung Ulakan ini. Meski begitu, mereka tidak sendiri. Karena Kementerian Kesehatan telah memerintahkan sebanyak total 47 tenaga media yang berasal dari lima rumah sakit di Kabupaten Karangasem dan sekitarnya, untuk membantu kebutuhan para pengungsi.

“Kalau di sini paling banyak masalah infeksi saluran pernapasan, gatal kulit. Ya itu terjadi karena kebersihannya. Kamar mandi disediakan, tapi mungkin ketika pengungsi ini kumpul-kumpul lagi, jadi kotor lagi,” ujar Satya Sueningrat, dokter dari RSU Karangasem.

Per 26 September, Pos Pengungsi Desa Ulakan tercatat telah menampung 816 jiwa. Untuk pengungsi dewasa dan anak-anak berumur di atas lima tahun dapat tinggal di dalam tenda bersama keluarga. Namun, untuk balita dan lansia dipisahkan di salah satu ruang kelas yang dijadikan tempat tinggal pengungsi sementara.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak akhir pekan lalu telah meminta penduduk yang tinggal di dalam radius sembilan kilometer dari puncak kawah Gunung Agung mengosongkan rumah dan untuk sementara tinggal di pos-pos pengungsi.

Berdasarkan sebaran pengungsi di kabupaten dan kota, tercatat sebanyak lebih dari 70 ribu jiwa tersebar di 377 titik, yakni di Kabupaten Badung 9 titik (756 jiwa), Kabupaten Bangli 29 titik (4.890 jiwa), Kabupaten Buleleng 24 titik (8.518 jiwa), Kota Denpasar 27 titik (2.539 jiwa), Kabupaten Gianyar 12 titik (540 jiwa), Jembrana 4 titik (82 jiwa), Kabupaten Karangasem 93 titik (37.812 jiwa), Kabupaten Klungkung 162 titik (19.456 jiwa), dan Kabupaten Tabanan 17 titik (1.080 jiwa).

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın