Megiza Asmail
BOGOR, Jawa Barat
“Nge-charge handphone saja sudah enggak mau. Enggak mau bangun tidur, kerja, semua sudah berantakan,” tutur Wan Indro, 28, saat mengingat masa mudanya yang mulai jatuh ke lubang gelap akibat kecanduan narkotik.
Pemuda asal Siak, sebuah kabupaten yang berjarak sekitar 94 km dari kota Pekanbaru, Provinsi Riau itu terlihat menyesal ketika bicara kembali tentang kehidupannya yang kian terasa suram sejak berkenalan dengan sabu.
Wan sudah ‘berhubungan’ dengan sabu sejak dia tamat SMU. Sepuluh tahun lalu, berawal dari coba-coba bersama temannya, dia mengaku langsung menyukai narkotik yang mengandung zat kimia bernama metilamfetamina atau desoksiefedrin itu.
Bagi Wan, ada sensasi pikiran yang meningkat hingga empat level tiap dia menggunakan sabu. Efek itu yang kemudian dimanfaatkannya setiap hari untuk mencari semangat berkuliah dan bekerja setelah lulus.
Delapan tahun dilalui dengan mengonsumsi sabu, kehidupan Wan perlahan mulai jatuh. Terlebih sepeninggal ayahnya dua tahun lalu, Wan mengaku hasrat untuk menggunakan sabu kian menjadi-jadi.
“Badan ini minta melulu dan Saya jadi meng-isolate diri dari orang. Takut ketemu orang. Yang ada setiap hari ke kuburan Papa, dan nanya ke Papa kenapa Saya bisa sampai seperti ini,” ujar Wan saat ditemui Anadolu Agency beberapa waktu lalu.
Bersamaan dengan dia menutup diri dari lingkungan, Wan pun mulai menyadari saldo tabungannya yang kian menipis. Uang tabungan habis. Padahal, kala itu dia bertanggungjawab untuk mengurus kebun sawit milik keluarga dan beberapa usaha lainnya.
“Sampai akhirnya saldo nol dan nyokap sudah mulai nangis-nangis, Saya akhirnya minta ke abang ipar untuk membawa Saya ke rehab,” tukas Wan.
Wan masih mengingat dengan jelas momen ketika dia meminta pertolongan dari keluarganya beberapa bulan lalu. Bong masih dipegang di tangan dan pikirannya masih ‘tinggi’.
“Tapi kalau enggak ngomong saat itu, besoknya pasti saya make lagi,” imbuh dia.
Tak jauh berbeda, Adi, 27, residen Balai Besar Rehabilitasi Badan Nasional Narkotik asal Solo yang kini menjadi karib Wan juga mengaku tersadar telah terjerumus ke kelamnya dunia narkotik ketika menyadari duit hasil keringatnya bekerja tak pernah berwujud apa-apa selain diserahkan ke bandar sabu.
Jika Wan berkenalan dengan sabu lewat coba-coba, maka narkotik pertama yang dicicipi Adi adalah jenis ekstasi, yang dicicipinya saat masih berseragam putih-abu-abu.
Kegemarannya dengan game-online membawa Adi ke Jakarta untuk mengikuti sebuah kompetisi pada 10 tahun lalu. Di sebuah hotel di bilangan Tanah Abang tempat dia menginap kala itu dia mencecap kenikmatan sesaat narkotik.
“Dari situ Saya balik ke Yogya, mulai pakailah itu sabu,” sesal Adi.
Beranjak ke bangku perguruan tinggi, Adi masih terus mengasup narkotik yang juga dikenal dengan sebutan meth itu. Karena belum mencandu, dia sempat berhenti menggunakan sabu sekitar tiga tahun.
Namun, sekembalinya dia ke Solo, dia malah bertemu dengan salah satu temannya yang aktif menggunakan narkotik. Hingga akhirnya, setiap hari dia tak pernah absen menyesap sabu.
“Dari situlah kita pakai [sabu], sampai hancur banget. Jadi, duit yang Saya tabung akhirnya sampai jadi nol juga,” sebut Adi mengamini kisah Wan.
Kesal dengan uang tabungan yang menguap tak berbentuk, Adi pun berhenti menggunakan sabu. Dia kemudian mencoba bekerja sebagai bartender untuk membuat kesibukan agar jauh dari narkotik.
“Ketika kerja jadi bartender, eh ternyata satpamnya jualan [sabu]. Jadinya malah Saya make dulu sama satpam sebelum mulai kerja di tempat kerjaan,” tutur Adi.
Lagi-lagi, kondisi keuangan terus menipis dan kebutuhan narkotik kian membesar. Memutar otak, Adi pun kemudian nekat berjualan sabu.
Awalnya dia menjual gram-graman. Kemudian pertemuan dia dengan pengguna lainnya membuat dia mendapat pemasok alias bandar narkotik yang lebih besar.
Adi menyebut kenalan kawan barunya itu adalah penghuni lapas narkotik di Nusa Kambangan.
“Berawal dari lima gram sampai akhirnya setengah kilogram lebih. Ya kalau dinominalin itu bisa sampai Rp300 jutaan,” sebut dia.
Besar dalam keluarga yang tertutup disebut Adi jadi salah satu penyebab dia berani mencoba narkotik. Komunikasi dia dan adiknya terasa sangat jauh dengan kedua orang tua mereka.
Mengetahui adiknya menggunakan narkotik, Adi pun mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia malah sempat memberi cuma-cuma hingga akhirnya menjual sabu kepada adiknya sendiri.
“Kasihan kan beli terus. Ya sudah, dikasih saja, terus Saya suruh jual sebagian,” tutur Adi.
Angka di rekening Adi kembali bertambah karena penjualan dibantu oleh sang adik.
Namun uang panas hasil jualan narkotik itu mendadak ludes setelah suatu hari adiknya tertangkap petugas saat sedang menjual sabu yang dia titipkan.
Uang hasil dagangan sabu yang dia kumpulkan mendadak habis. Pasalnya, duit itu mau tak mau harus dikeluarkannya sebagai bayaran untuk mengurangi masa hukuman penjara yang harus dijalani oleh adiknya.
“Jadi berasa nol lagi,” kata Adi.
Ditangkapnya sang adik, tak menjadi satu-satunya momen keruntuhan masa muda Adi.
Kala dia bersama adiknya sibuk keliling untuk menyuplai sabu ke beberapa pelanggan, saat itu juga kondisi kesehatan Ayahnya menurun.
Ayahnya saat itu sudah mulai mengeluh koordinasi tubuhnya yang semakin menurun.
Sakit diabetes yang diidapnya mulai merambah ke gejala stroke.
Adiknya yang sibuk ‘berdagang’ tak dapat membawa ayah mereka ke Rumah Sakit. Adi pun kala itu malah lebih memilih untuk berasyik-masyuk dengan kekasihnya.
“Akhirnya besok harinya bokap stroke. Sampai sekarang gue belum bisa maafin diri gue atas hal itu,” aku Adi kecewa.
Dengan kejadian-kejadian itu, ditambah masuknya sang adik ke tempat rehabilitasi, Adi kemudian membulatkan tekad untuk mengubah hidup dengan masuk ke Balai Besar Rehabilitasi BNN.
Tak ingin melihat angka di tabungan nol terus, ingin kembali bekerja, kembali pulih bersama adiknya, dan keinginan untuk melihat keluarganya kembali utuh dan berjalan bersama akhirnya menjadi harapan baru Adi.
“Waktu gue announce ingin masuk rehab, nyokap gue langsung sujud syukur karena senang banget. Akhirnya gue dibawa ke sini, diantar tante,” cerita Adi dengan wajah semringah.

Membenahi diri di ‘Rumah Sulap’
Menjejakkan kaki di Balai Rehabilitasi BNN sudah menjadi keinginan Wan dan Adi untuk mulai membenahi dirinya. Namun, perjalanan awal di balai rehabilitasi tak terbilang mudah.
Terlebih, Wan sempat mengalami masa putus-zat dengan kondisi tidak mau beranjak dari tempat tidur selama tujuh hari pertama dia menghuni balai rehab.
“Putus-zat itu jadi drop enggak mau ngapa-ngapain. Makan-tidur saja. Pemakai sabu kan sebutannya punya utang makan dan utang tidur,” sebut Wan.
Sepakat dengan pengalaman Wan saat bergabung sebagai residen balai rehab BNN, Adi bercerita usai masa detoksifikasi dan putus zat itu, tubuhnya perlahan terasa lebih enak dan otaknya mulai dapat berpikir.
Pada fase Entry Unit, Wan dan Adi bersiap diri untuk pengenalan program-program yang harus mereka ikuti selama enam bulan ke depan.
“Kita digojlok untuk bisa disiplin, take responsible, bisa mature, dan masih banyak lagi,” ucap Adi.
Salah satu bentuk disiplin yang setiap pagi dikerjakan para residen balai rehab adalah kewajiban mereka membersihkan tempat tidur dan menata barang pribadi sesuai dengan aturan yang ditetapkan.
“Tiap hari di Program itu tempat tidur enggak boleh ada gelombang sedikit. Disiplin banget,” tutur Wan.
Selama dua pekan memulai Program, masing-masing residen ditemani buddy alias teman. Pada masa itu, antara residen dan buddy tidak boleh terpisah lebih dari lima meter.
Niat mengembalikan hidup ke jalan yang lebih baik, Wan dan Adi pun menjalani aturan-aturan tersebut dengan penuh semangat.
“Sampai sekarang masih berasa [efek disiplinnya]. Sekarang, kalau enggak rapi enggak senang ini hati. Sekarang beresin tempat tidur sudah bisa, nyapu juga sudah bisa. Pakai baju yang tak rapi pun jadi tak senang,” cerita Wan.
Sebuah pesan dari salah satu konsuler yang mendampinginya selama di Program pun diakui Adi bakal melekat terus di kepalanya.
“Value seseorang dinilai saat dia bangun tidur. Tempat tidurnya rapi atau tidak,” ingat Adi.
Dia berkata, banyak peraturan kecil yang mempunyai efek besar dalam disiplin yang dijalaninya dalam Program.
Larangan berbagi rokok, makanan atau barang pribadi, menurut Adi dapat mengganggu objektifitas seseorang terhadap teman yang membagi barang-barang tersebut.
“Misalnya gue baik sama dia, otomatis dia merasa utang budi dan merasa enggak enak, jadi entar kalau gue punya salah dia pura-pura enggak lihat. Itu yang bahaya,” sebut Adi.
“Iya, sekali kita membiarkan orang make depan kita, besok kita biarin lagi, yang ketiga kali kita bisa-bisa make bareng,” timpal Wan.
Fase orientasi, middle dan older yang mereka ikuti selama Program diakui keduanya membuat mereka juga semakin peduli dengan diri sendiri.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan secara rutin dengan jam dan aturan tertentu juga menyadarkan Wan dan Adi untuk menghargai sebuah proses.
“Di sini otak kita diisi untuk materi-materi yang berguna kayak bagaimana relapse prevention, bersosialisasi. Jadi otak kita sekarang sudah bisa bekerja lagi,” sebut Adi.
Tak hanya itu perubahan karakter juga dirasakan oleh dia selama hampir setengah tahun menghuni dormitory balai rehab.
Sebuah terapi bernama Therapeutic Community menciptakan kebiasaan baru untuk para residen dalam mengungkapkan apa yang mereka rasakan setiap pagi.
Residen lain yang mendengar curahan hati mereka dapat langsung memberikan tanggapan atau saran positif saat kelas terapi ini berlangsung.
“Jadi yang dulunya enggak bisa ngomong, sekarang gue bisa cerewet. Gue dulu mentok-mentok ngomong sama tukang makanan di bawah sama kasir Indomaret,” imbuh dia tertawa.
“Di sini tuh seperti rumah sulap, lah. Dari yang malas jadi rajin, dari yang enggak bisa ngomong, jadi bisa ngomong. Dari yang enggak bertanggung jawab, jadi bisa bertanggung jawab,” tukas Adi.
Selain mengalami perubahan cara bersikap, keduanya pun mengaku merasakan perubahan berat badan.
Makanan dan sistem olah raga yang teratur membuat bobot tubuh Wan naik dari 51 kilogram menjadi 75 kilogram. Sedangkan Adi, bertambah dari 50 kilogram menjadi 70 kilogram.

Hari-hari terakhir sebagai residen
Lebih dari lima bulan sudah kini Wan dan Adi menapaki jalan kehidupan baru mereka. Sederet rencana sudah disiapkan untuk dapat kembali ke tengah-tengah keluarga dan lingkungan.
Adi bertutur, satu bulan terakhir itu di rumah Re-Entry, mereka diharapkan sudah bisa bersosialisasi.
Jika selama lima bulan sebelumnya mereka tak pernah memegang uang, dan hanya boleh mendapatkan makanan camilan dari kiriman keluarga, maka hal itu tidak lagi dijalani pada jelang-jelang hari terakhir menjalani rehab.
“Di sini juga kan dibolehkan kita dapet proyek dari konselor, misalkan cuci motor. Kita kan dikasih duit tuh, misalkan 50 ribu. Itu sudah berharga banget,” cerita Wan.
Jika dulu semasa di luar rehab dia tidak pernah berpikir untuk menyisakan uang dan peduli dengan uang yang dia terima beserta pengeluarannya, maka di sini dia tak lagi dapat melakukannya.
“Dulu mana ada kepikiran nyisain, boro-boro. Tapi di sini kita diajarkan cash flow itu harus jelas,” aku Wan.
Tak cuma perkara mengurus keuangan, latihan-latihan vokasional lainnya juga dibuat untuk menyiapkan kehidupan baru para residen selepas menjalani Program.
“Kami dilatih untuk ketrampilan kerja dan bertahan hidup. Seperti tanam sayuran, bikin kue sampai, bikin usaha kopi,” tutur Wan yang mengaku tergiur ingin memulai usaha kopi sekembalinya dia ke Pekanbaru kelak.
Akhir bulan Desember ini Wan sudah bersiap diri untuk kembali bekerja mengurus perusahaan keluarga. Dia juga punya keinginan untuk aktif di Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) untuk berbagi pengalaman kepada residen balai rehab lainnya.
“Kerjaannya sudah ada, ngurus kebon sawit, alhamdulillah belum dipecat asal baliknya sebelum Januari,” tutur Wan.
Untuk membersihkan diri dari lingkungan narkotik yang dulu menjeratnya selama sepuluh tahun, Wan juga bertekad untuk tak kembali ke Siak.
“Di Siak ini kan teman make banyak nih, di samping rumah juga begitu, makanya pindah dulu ke Pekanbaru,” kata dia.
Di tempat berbeda, Adi mengaku sudah mempunyai rencana untuk kembali melanjutkan kesukaannya di dunia teknologi informasi.
Dia berhasrat untuk kembali mengasah otaknya untuk mengambil pendidikan di bidang TI tersebut di Yogyakarta. Sebuah beasiswa dari badan NGO menjadi incarannya setelah keluar dari balai rehab nanti.
“Di bulan Maret nanti dapat beasiswa juga. Soalnya itu kayak NGO, kalau mau keterima ya harus tes dulu,” kata pria yang sebelumnya dua kali mendapat beasiswa dari Universitas Gadjah Mada ini.
Dengan terapi, konseling, dan kegiatan penuh disiplin yang bertubi-tubi di balai rehab BNN, Adi sampai pada kesimpulan bahwa setelah dia tamat menjalankan rehab ini ‘produktif jadi harga mati’.
“Karena pola-pola kejatuhan seperti kita banyak bengong, enggak ada kerjaan, membuat kita jadi pengen mati lagi. Pokoknya harus produktif!” tegas Adi.

news_share_descriptionsubscription_contact
