Astudestra Ajengrastrı
29 Mei 2018•Update: 30 Mei 2018
Sena Guler
ANKARA
Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Senin mengecam capur tangan Jerman dalam pemilihan umum Turki dengan tidak mengizinkan para pejabat pemerintahan menghadiri pertemuan di Jerman, Senin.
Berbicara di kampanye Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di sebelah barat provinsi Manisa, Erdogan berkata, "Mereka tidak mengizinkan teman-teman kita melakukan pertemuan di Jerman meskipun untuk tugas negara, tapi mereka mengizinkan PKK."
"Mereka [Jerman] berbohong pada kita. Mereka mengizinkan teroris berkampanye di bawah perlindungan polisi," tambah dia.
Partai oposisi HDP, yang dituduh oleh pemerintah Turki sebagai front politik organisasi teror PKK, diperbolehkan mengadakan kampanye di kota Cologne, Jerman, pada Sabtu, Mereka juga berencana mengadakan kampanye lagi di Berlin pada Minggu depan.
Sekitar seribu orang pendukung PKK berkumpul di lapangan Neumarkt, kata juru bicara polisi Jerman kepada Anadolu Agency.
Pada April, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas berkata negaranya tidak akan mengizinkan politisi Turki untuk mengadakan kampanye pemilihan umum.
Operasi anti-teror
Dalam pidatonya Presiden Erdogan mengumumkan bahwa Turki telah menetralisir 4.481 teroris di Afrin, Suriah, sejak peluncuran Operasi Ranting Zaitun.
Erdogan juga mencatat bahwa operasi anti-teror juga menetralisir 423 teroris PKK di Irak utara dan 415 teroris di dalam negeri.
Otoritas Turki menggunakan kata "menetralisir" dalam pernyataan mereka untuk mengindikasikan teroris yang menyerah, terbunuh, atau ditangkap.
Erdogan akan mengadakan kampanye di 30 provinsi selama masa kampanye.
April lalu, parlemen mengesahkan undang-undang untuk mengadakan pemilihan umum pada 24 Juni, yang menandakan perubahan sistem pemerintahan Turki menjadi presidensial.
Dalam referendum yang diadakan pada April 2017, masyarakat Turki menyetujui beralihnya sistem pemerintahan parlementer menjadi presidensial.
Erdogan telah menjabat sebagai presiden sejak 2014 -- menjadikannya presiden pertama yang meraih suara mayoritas yang dipilih rakyat Turki. Sebelumnya, dia menjabat sebagai perdana menteri Turki dari 2003-2014.
Jika Erdogan kembali menang pada pemilu 24 Juni nanti, Erdogan akan menjadi pemimpin Turki pertama yang menjabat dengan sistem presidensial, menyingkirkan pos perdana menteri.