Ekip
10 Januari 2018•Update: 10 Januari 2018
Ekip
ANKARA
Turki menyampaikan ketidaknyamanannya kepada Duta Besar (Dubes) Iran untuk Ankara mengenai pelanggaran rezim Assad di zona de-eskalasi Suriah.
Duta Besar Iran untuk Ankara Mohammed Ebrahim Taherian Fard pada Selasa dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Turki terkait ketidaknyamanan Turki atas sejumlah serangan rezim Assad di zona de-eskalasi Idlib, Suriah.
Duta Besar Rusia untuk Ankara Alexei Yerhov juga mendatangi Kementerian pada Selasa untuk alasan yang sama.
Turki sebelumnya juga menyuarakan ketidaknyamanannya mengenai pelanggaran rezim Assad di zona de-eskalasi Idlib kepada Rusia dan Iran yang merupakan penjamin rezim dalam rangka kesepakatan Astana melalui jalur militer dan diplomatik.
Karena pelanggaran yang terus berlanjut di Idlib, Duta Besar kedua negara dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Turki dan diminta untuk mendesak rezim Assad segera mengakhiri pelanggaran tersebut.
Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu pada Rabu juga mengatakan bahwa Iran dan Rusia "harus memenuhi tanggung jawabnya" sebagai negara penjamin di Suriah
"Jika Anda penjamin –dan mereka adalah penjamin- Anda harus menghentikan rezim. Ini bukan hanya serangan udara sederhana. Rezim bergerak maju di Idlib. Tujuannya berbeda," kata Cavusoglu.
Ia mengatakan, pasukan rezim Suriah menargetkan kelompok oposisi "dengan dalih memerangi kelompok teroris Al-Nusra".
Cavusoglu memperingatkan bahwa tindakan semacam itu akan merusak proses perdamaian di Suriah.
Kota Sochi di Rusia akan menjadi tempat diselenggarakannya Kongres Dialog Nasional Suriah, yang rencananya akan diadakan pada 29-30 Januari.
Kongres tersebut diperkirakan akan diikuti oleh semua segmen masyarakat Suriah kecuali kelompok teror.
Perang sipil di Suriah dimulai ketika rezim Bashar al-Assad mulai menindak keras demonstrasi pro-demokrasi pada awal 2011.
Sejak saat itu, ratusan ribu warga sipil tewas dan jutaan lainnya terpaksa melarikan diri dan mengungsi, menurut pejabat PBB.