Hayati Nupus
26 Desember 2018•Update: 26 Desember 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengatakan saat ini Indonesia hanya mengandalkan lima unit buoy tsunami milik internasional.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan satu buoy milik India berlokasi di sebelah barat Aceh, satu unit milik Thailand di Laut Andaman, satu unit milik Australia di selatan Sumba dan satu unit milik Amerika Serikat di utara Papua.
“Dulu kita punya banyak, tapi dirusak oleh oknum,” keluh Sutopo, Rabu, di Jakarta.
Sutopo mengatakan bahwa buoy berfungsi untuk meyakinkan peneliti bahwa tsunami terdeteksi di laut sebelum menerjang pantai.
Buoy, tutur Sutopo, merupakan salah satu bagian dari Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).
Pada 2008, ujar Sutopo, Indonesia memiliki 22 unit buoy.
Delapan unit di antaranya, menurut Sutopo, dibangun oleh pemerintah, 10 unit sumbangan Jerman, satu unit dari Malaysia dan dua unit dari Amerika Serikat.
Selain vandalisme, kata Sutopo, mahalnya biaya perawatan mengakibatkan buoy-buoy itu tak lagi berfungsi.
Stuopo mencontohkan buoy yang dipasang di Laut Banda pada April 2009 kemudian rusak karena hanyut hingga ke utara Sulawesi pada September tahun yang sama.
Sejak 2012, imbuh Sutopo, seluruh buoy itu tak lagi beroperasi.
“Tanpa buoy kita sulit memastikan apakah tsunami benar terjadi di lautan,” ujar Sutopo.
Buoy-buoy itu berharga mahal, kata Sutopo. Satu unit buoy produk Amerika Serikat seharga Rp7-8 miliar, sedang produk Indonesia seharga Rp4 miliar.
Meski begitu, tambah Sutopo, tanpa buoy, sistem peringatan dini tetap berjalan. BMKG melakukan peringatan dini berdasarkan permodelan yang diperoleh dari jaringan seismik deteksi gempa.
Tsunami melanda Selat Sunda pada Sabtu malam 22 Desember 2018. Lima kabupaten terdampak, yaitu Serang, Pandeglang, Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan tsunami itu terjadi akibat adanya longsoran Gunung Anak Krakatau yang erupsi sejak Juli 2018 lalu.
BNPB mencatat terdapat 430 orang tewas, 1495 orang terluka, 159 orang hilang dan 21.991 orang mengungsi.
“Ini data sementara, kemungkinan besok jumlah korban akan bertambah karena saat ini tim SAR masih menyisir lokasi kejadian,” ujar Sutopo.