Hayati Nupus
03 Oktober 2018•Update: 04 Oktober 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengatakan dari 29 negara dan empat organisasi internasional yang menawarkan bantuan untuk korban gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tenggara, baru 17 negara saja yang telah menyampaikan secara konkrit.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan pemerintah telah bertemu dengan perwakilan 17 negara tersebut untuk mendaftarkan jenis bantuan apa saja yang bisa diterima.
“Bantuan yang mereka tawarkan sudah kita pilah, sesuai yang dibutuhkan,” ujar Sutopo, Rabu, di Jakarta.
Pertemuan tersebut, menurut Sutopo, juga membahas bahwa kebutuhan avtur pesawat dukungan asing selama di Indonesia ditanggung oleh negara pengirim.
Pemerintah, kata Sutopo, hanya bisa menerima enam jenis kebutuhan saja dari masyarakat internasional, sesuai kebutuhan. Yaitu pesawat angkut, tenda pengungsian, alat pengolahan air bersih, rumah sakit lapangan, tenaga medis, dan genset.
Namun, ujar Sutopo, Kementerian Kesehatan menyampaikan jika sebaiknya bantuan internasional itu seputar transportasi udara, alat pengolahan air bersih, genset dan tenda saja. Sedang kebutuhan rumah sakit lapangan, tenaga medis, obat-obatan dan fogging, pemerintah Indonesia masih bisa mencukupi.
“Makanya beberapa negara yang menawarkan tim SAR dan tenaga medis telah kita putuskan untuk tidak difasilitasi,” menurut Sutopo.
Balikpapan, kata Sutopo, akan menjadi posko bantuan internasional. Pemerintah akan menyiapkan sistem keimigrasian di posko tersebut.
Pengelola posko, ujar Sutopo, akan melaporkan perkembangan pemberian bantuan kepada Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan.
Gempa bumi berkekuatan M 7,7 mengguncang Palu, Donggala dan Mamuju, Sulawesi Tengah, pada Jumat, disusul oleh tsunami.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan hingga Rabu pagi pukul 07.00 WIB tercatat ada 362 kali gempa susulan dengan tren menurun, sebanyak 12 di antaranya terasa.