JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan laju kontraksi perekonomian Indonesia yang tumbuh negatif -5,32 persen pada kuartal kedua cukup tertahan karena pertumbuhan positif pada sektor pertanian.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan dari 17 sektor lapangan usaha, hanya tujuh sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif secara tahunan, yakni pertanian 2,19 persen, informasi dan komunikasi 10,88 persen, jasa keuangan 1,03 persen, dan jasa pendidikan 1,21 persen.
Sektor lain yang tumbuh positif adalah perumahan 2,3 persen, jasa kesehatan 3,71 persen, dan pengadaan air 4,56 persen.
Dia mengatakan dengan pertumbuhan negatif di banyak sektor, maka ada pergeseran struktur produk domestik bruto (PDB) dengan meningkatnya kontribusi pertanian terhadap PDB dari 13,57 persen pada kuartal kedua tahun lalu menjadi 15,46 persen pada tahun ini.
Secara umum struktur PDB tidak banyak berubah karena 65 persen dipengaruhi 5 sektor, yakni industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.
“Kelima sektor ini sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kita, tapi sayangnya hanya pertanian yang tumbuh positif,” ujar Suhariyanto.
Dia mengatakan pertumbuhan positif pada sektor pertanian ini sangat bagus sehingga mampu mengurangi laju kontraksi pada kuartal kedua tahun ini.
Suhariyanto menambahkan bahwa pertumbuhan positif pada sektor pertanian ini karena pada subsektor tanaman pangan mampu tumbuh tinggi 9,23 persen akibat dari pergeseran masa panen raya yang pada tahun lalu terjadi pada Maret menjadi April dan Mei pada tahun ini.
Kemudian juga terjadi pertumbuhan pada tanaman hortikultura sebesar 0,86 persen karena meningkatnya pertumbuhan pada produk buah-buahan, sayuran, dan tanaman aromatik dan rempah-rempah.
Suhariyanto menambahkan bahwa pertumbuhan tertinggi pada kuartal kedua secara tahunan terjadi pada lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 10,88 persen.
“Ini terjadi karena selama pandemi Covid-19 ada peningkatan belanja iklan tv dan digital, penggunaan internet, dan jumlah pelanggan jasa internet,” jelas Suhariyanto.
Sementara itu, dia mengatakan kontraksi paling dalam terjadi pada lapangan usaha sektor transportasi sebesar negatif 30,84 persen dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal kedua ini turun dari 5,57 persen menjadi 3,57 persen secara tahunan.
Suhariyanto mengatakan di sektor transportasi ini terjadi penurunan paling dalam pada subsektor angkutan udara sebesar negatif 80,23 persen dan angkutan rel negatif 63,75 persen, serta pada angkutan pergudangan dan jasa penunjang angkutan dengan negatif 38,69 persen.
“Kontraksi pada sektor transportasi karena ada imbauan untuk kerja dan beraktivitas dari rumah serta pada Idulfitri lalu tidak ada mudik,” jelas dia.
Selanjutnya pada lapangan usaha sektor industri pengolahan mengalami kontraksi 6,19 persen karena terjadi kontraksi pada industri batu bara dan pengilangan migas sebesar negatif 10,31 persen.
Subsektor industri yang mengalami pertumbuhan positif hanya makanan dan minuman 0,22 persen, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional 8,65 persen, dan industri logam dasar 2,76 persen.
“Pada subsektor industri lain mencatat kontraksi,” lanjut dia.
Suhariyanto menambahkan sektor perdagangan juga mencatatkan kontraksi 7,57 persen yang disebabkan oleh penurunan perdagangan mobil, sepeda motor, dan reparasinya sebesar negatif 29,77 persen dan dan perdagangan besarm eceran, bukan mobil dan sepeda motor sebesar negatif 2,51 persen.
Selain itu, sektor konstruksi juga mencatat kontraksi 5,39 persen akibat dari realisasi pengadaan semen yang turun 7,68 persen karena PSBB pada April hingga Juni sehingga ada keterlambatan dan penundaan sejumlah proyek infrastruktur.
“Covid-19 juga berdampak pada sektor akomodasi dan makanan minuman yang mengalami kontraksi 22,02 persen,” jelas Suhariyanto.
Dia mengatakan kontraksi tersebut karena adanya penurunan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara sehingga pertumbuhan pada subsektor penyediaan akomodasi tumbuh negatif 44,23 persen.
Kemudian pada subsektor penyediaan makanan minuman juga terkontraksi 16,81 persen.
Suhariyanto menambahkan penyumbang pertumbuhan ekonomi negatif 5,23 persen pada kuartal ini berasal dari transportasi dengan negatif 1,29 persen, industri pengolahan negatif 1,28 persen, perdagangan negatif 1 persen, akomodais dan makanan minum negatif 0,66 persen, dan lainnya negatif 1,09 persen.
news_share_descriptionsubscription_contact
