JAKARTA
Dalam penutupan perdagangan sore ini rupiah ditutup menguat 10 point di level Rp14.740 dari penutupan sebelumnya di level Rp14.750 per dolar AS.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dalam perdagangan besok kemungkinan rupiah masih akan kembali menguat di level sempit antara 10-25 point di level Rp14.710-14.800 per dolar AS.
Sementara itu, Indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 9,66 poin atau 0,18 persen ke level 5.230,195 pada akhir perdagangan awal pekan ini.
Sebanyak 174 saham menguat, 231 terkoreksi, dan 294 stagnan dengan nilai transaksi tercatat sebesar Rp6,07 triliun serta aksi jual investor asing sebesar Rp786,19 miliar.
Ibrahim mengatakan dari sisi internal yang mempengaruhi pergerakan rupiah dan IHSG pada awal pekan ini adalah karena fokus utama pemerintah saat ini untuk penanganan masalah kesehatan akibat kasus Covid-19 yang masih mengkhawatirkan walaupun protokol kesehatan sudah dijalankan.
“Apa yang dilakukan oleh pemerintah untuk fokus di kesehatan masyarakat karena pemerintah sudah mengetahui bahwa kemungkinan PDB kuartal ketiga akan terjadi kontraksi sehingga sangat mungkin Indonesia mengikuti jejak 47 negara lainnya yang sudah lebih awal terkena dampak resesi,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Senin.
Di samping itu, Ibrahim mengatakan risiko resesi kian nyata setelah pemerintah DKI Jakarta terus memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga saat ini bahkan ada rumor PSBB Transisi kemungkinan akan di perpanjang sampai akhir tahun 2020 yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya akan terjadi stagnasi.
“Stagnasi ini akan berimbas terhadap menurunnya konsumsi masyarakat dan pertumbuhan investasi yang stagnan,” lanjut dia.
Dengan informasi tersebut, pelaku pasar merasa lega dan ada kepastian dari pemerintah sehingga arus modal asing kembali masuk ke dalam pasar dalam negeri walaupun aliran dananya tidak terlalu deras.
Sementara dari sisi eksternal, Ibrahim mengatakan faktor yang berpengaruh adalah adanya rilis data pekerjaan AS yang menunjukkan pertumbuhan pekerjaan melambat lebih jauh pada bulan Agustus.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Jumat menunjukkan bahwa pertumbuhan pekerjaan AS melambat dan kehilangan pekerjaan permanen meningkat karena pendanaan pemerintah mulai habis, meningkatkan keraguan pada keberlanjutan pemulihan ekonomi.
“Namun, tingkat pengangguran AS turun menjadi 8,4 persen pada Agustus dari 10,2 persen di Juli, padahal prediksi dari sejumlah ekonom hanyalah di kisaran 9,8 persen,” kata dia.
Dia mengatakan pada bulan Juli terjadi peningkatan 1,73 juta pekerja manufaktur dan konstruksi (nonfarm payroll), sementara di bulan Agustus meningkat sebanyak 1,37 juta pekerja di AS.
Faktor eksternal lain yang berpengaruh adalah bentrokan yang kembali terjadi antara petugas polisi dengan pengunjuk rasa dalam demo Hong Kong pada hari Minggu kemarin.
Dalam demo di distrik perbelanjaan kelas atas Causeway Bay itu polisi Hong Kong menembakkan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa setelah ribuan demonstran berkumpul di Konsulat Amerika Serikat (AS) untuk meminta bantuan bagi wilayah yang masih dikuasai China itu.
Akibat hal itu, para demonstran berpencar ke wilayah Admiralty di dekatnya, ke distrik bar Wan Chai dan ke Causeway Bay.
Demo Minggu kemarin merupakan lanjutan dari demo anti pemerintah yang sudah terjadi sekitar tiga bulan terakhir di salah satu pusat keuangan dunia itu.
Selain itu, faktor lainnya adalah di tengah kebuntuan negosiasi perdagangan Uni Eropa-Inggris, kemungkinan Brexit tanpa kesepakatan telah meningkat tajam karena negosiasi telah terancam oleh desakan Inggris bahwa negara itu memiliki otonomi penuh atas rencana bantuan negara.
Uni Eropa menuntut potensi veto pada undang-undang dan peraturan pasca-Brexit Inggris.
news_share_descriptionsubscription_contact
