JAKARTA
Pemerintah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 dari sebelumnya minus 0,6 persen hingga minus 1,7 persen, menjadi minus 1,7 persen hingga minus 2,2 persen.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan perubahan proyeksi pertumbuhan ekonomi ini karena adanya dinamika Covid-19 sehingga tidak ada satupun institusi yang bisa memberikan prediksi secara akurat.
“Asian Development Bank (ADB) juga merevisi proyeksi pertumbuhan Indonesia dari minus 1 persen menjadi minus 2,2 persen,” ujar Menteri Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual, Senin.
World Bank juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sebelumnya minus 1,6 persen hingga minus 2 persen menjadi minus 2,2 persen.
IMF memperkirakan pertumbuhan Indonesia 2020 sebesar minus 1,5 persen dan OECD merevisi proyeksi dari minus 3,3 persen menjadi minus 2,4 persen.
Menteri Sri Mulyani mengatakan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi yang pemerintah lakukan karena beberapa faktor permintaan domestik yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi masih mengalami pemulihan yang terbatas dan terkontraksi.
“Pada kuartal keempat proyeksi pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi di kisaran minus 0,9 persen hingga minus 2,9 persen,” jelas Menteri Sri Mulyani.
Kemudian proyeksi konsumsi masyarakat pada kuartal keempat masih terkontraksi di kisaran minus 2,6 persen hingga minus 3,6 persen karena kasus Covid-19 meningkat dan langkah-langkah pembatasan mulai diketatkan sehingga konsumsi tidak bisa normal secepat prediksi semula.
Oleh karena itu, sepanjang 2020 outlook konsumsi masyarakat masih terkontraksi dalam kisaran minus 2,4 persen hingga minus 2,7 persen.
Selanjutnya, konsumsi pemerintah pada kuartal keempat diperkirakan tumbuh positif 3,1 persen hingga 5,1 persen sehingga pada seluruh tahun 2020 diperkirakan tumbuh minus 0,3 persen hingga positif 0,3 persen.
Dia menambahkan investasi pada kuartal keempat diproyeksikan masih tumbuh minus 4 persen hingga minus 4,3 persen sehingga sepanjang 2020 diperkirakan tumbuh minus 4,4 persen hingga minus 4,5 persen.
Selanjutnya, proyeksi pertumbuhan ekspor pada kuartal keempat masih minus 0,6 persen hingga minus 2,6 persen dan sepanjang 2020 diperkirakan minus 5,7 persen hingga minus 6,2 persen.
Kemudian, Menteri Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan impor pada kuartal keempat diperkirakan minus 15,5 persen hingga minus 18,3 persen yang pada keseluruhan tahun menjadi minus 14,3 persen menjadi minus 15 persen.
“Pada 2021 perekonomian Indonesia akan kembali positif ditopang vaksinasi dan upaya pengendalian pandemi dan kebijakan pemulihan ekonomi,” kata Menteri Sri Mulyani.
Pemerintah memperkirakan pertumbuhan pada 2021 sebesar 5 persen, sementara ADB merevisi dari proyeksi 5,3 persen menjadi 4,5 persen.
Sementara itu, World Bank merevisi pertumbuhan Indonesia tahun depan dari 3 persen menjadi 4,4 persen, OECD merevisi dari 5,3 persen menjadi 4 persen, dan IMF memproyeksikan pertumbuhan sebesar 6,1 persen.
news_share_descriptionsubscription_contact
