Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah akan memberikan insentif bagi produsen biodiesel berupa selisih biaya produksi bahan bakar nabati tersebut dengan harga bahan bakar minyak jenis gasoil yang beredar di pasaran, ungkap seorang pejabat di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rabu.
Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan biaya produksi bahan bakar nabati tersebut lebih besar daripada gasoil yang ada di pasaran. Insentif akan menutup selisih kurang antara Harga Indeks Pasar Minyak Solar dengan Harga Indeks Pasar Biodiesel.
Namun, bila harga minyak mencapai USD90 per barel dan harga Crude Palm Oil (CPO) berkisar USD650-USD700 per ton maka insentif bisa tidak diperlukan lagi.
Dana tersebut akan diambil dari dana sawit yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomer 66 Tahun 2018 tentang penghimpunan dan penggunaan dana perkebunan kelapa sawit.
“Jadi nanti harga solar yang diterima adalah harga konsumen. Selisih antara harga produksi dan harga pasar itulah yang diberikan dalam bentuk insentif,” ujar dia usai pembukaan The 7th IndoEBTKE ConEx 2017, pameran dan konferensi energi baru terbarukan di Jakarta.
Insentif ini, menurut Andriah adalah upaya untuk mendukung kebijakan campuran biodiesel pada solar sebesar 20 persen (B20). Dengan kebijakan ini, semua bahan bakar minyak jenis solar yang beredar harus mendapat tambahan sebanyak 20 persen dari bahan bakar nabati.
Saat ini ada 19 produsen bahan bakar nabati (BUBBN) yang akan menyalurkan produksinya pada 11 produsen bahan bakar minyak (BUBBM) yang akan mencampurnya. Mereka adalah BUBBM yang memiliki kilang atau mengimpor minyak mentah.
“Mulai 1 September nanti seluruh sektor menerapkan B20,” ujar dia.
BPDP Kelapa Sawit tahun ini menyiapkan dana sebesar Rp9,8 triliun untuk membiayai penyaluran biodiesel dengan volume sekitar 3,22 juta kilo liter. Dari volume tersebut, sebanyak 3 juta kilo liter akan dialokasikan untuk sektor public service obligation (PSO) dan pembangkit listrik PLN. Sedangkan sebanyak 20 ribu kilo liter akan dialokasikan untuk PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan sisanya 200 ribu kilo liter dialokasikan ke sektor non-PSO.
Untuk periode Januari-April 2018, BPDPKS telah merealisasikan pembayaran insentif biodiesel senilai Rp3,24 triliun dengan volume sebesar 0,97 juta kilo liter yang dialokasikan untuk sektor PSO dan pembangkit listrik.
Konsumsi gasoil Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai 28,5 juta-30 juta kiloliter. Sebanyak 21 juta kl berasal dari kilang domestik, dan sisanya akan diimpor.
Konsumsi gasoil tahun ini telah meningkat dari 27,5 juta kl dari 2017, yang terdiri dari 21 juta kl dari kilang domestik dan 6,5 juta kiloliter dari impor. Program B20 ini diperkirakan akan menyelamatkan devisa hingga USD 1,55 miliar.
Di tempat yang sama, Menteri ESDM Ignasius Jonan mendorong pengusaha mengembangkan bisnis etanol. Hal ini agar produksi biogasoline atau bensin campuran bahan bakar nabati (BBN) bisa dipercepat.
Selama ini, kata Menteri Jonan para pengusaha hanya fokus berinvestasi pada sektor ketenagalistrikan dibanding BBN. Padahal, sektor ini juga mempunyai potensi besar.
“Pemerintah kini sedang uji coba produksi bensin dengan kadar etanol dua persen atau E2,” ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
