Muhammad Nazarudin Latief
29 Agustus 2019•Update: 29 Agustus 2019
JAKARTA
Para pemain layanan pembayaran elektronik akan bersinergi memperbesar pangsa pasar mereka.
Saat ini penetrasi digital payment di Indonesia masih relatif rendah, hanya tujuh persen secara nasional. Sedangkan di negara lain yang sudah matang perekonomiannya, seperti China, sudah mencapai 30 persen.
Penetrasi yang luas dalam penggunaan digital payment diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena lebih efesien dan meningkatkan belanja masyarakat.
“Digital payment ini akan membentuk digital financial inclusion sehingga masyarakat bisa menyimpan tabungan, transfer atau menerima bantuan, Ini akan meningkatkan pengeluaran dan menggerakkan perekonomian,” ujar Chief Executive Officer (CEO) dompet digital DANA, Vincent Iswara, di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, masyarakat Indonesia sudah siap menerima digital lifestyle dan ekonomi digital yang ditunjukkan dengan munculnya pemain-pemain layanan pembayaran digital.
Pada mulanya para pemain pembayaran digital ini mencoba pasar perkotaan, namun pasti akan berkembang dan melakukan penetrasi ke kota tier I atau tier II.
Semakin banyak pemain, kata Vincent semakin baik, karena bisa memberikan edukasi pasar untuk masuk ke ekosistem pembayaran digital.
Menurut Vincent, dengan potensi penduduk dan besarnya kepemilikan telepon genggam yang mengakses internet, potensi pembayaran digital di Indonesia sangat besar.
Vira Shanty, Chief Data Officer Lippo Digital Group (OVO) mengatakan visi industri pembayaran digital saat ini adalah memperbesar pasar.
Namun soal keamanan data pengguna juga harus diperhatikan. Penyelenggara layanan pembayaran digital, kata Vira memang biasa melakukan sharing data baik ke dalam perusahaan maupun keluar.
“Monetisasi data ke dalam itu agar memahami konsumen lebih baik, melakukan personalisasi layanan. Sedangkan sharing data keluar adalah untuk membangun digital ecosystem,” ujar dia.
“Namun ada data pengguna yang tidak boleh disebarluaskan.”
Bagi kalangan perbankan menyambut baik layanan pembayaran digital ini karena akan mengurangi ongkos operasional secara signifikan.
“Ongkos paling mahal bank adalah cash logistic. Mulai dari pengiriman, keamanan, menghitung, penyimpan,” ujar Wakil Presiden Direktur BCA Armand Hartono.
Pembayaran digital, kata Hartono, “menyenangkan bank, karena memperbanyak koneksi dan membantu banyak nasabah.”
Standar QRIS mendorong digital payment
Setelah Bank Indonesia meluncurkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pekan lalu, para pemain pembayaran digital makin yakin bisa melakukan penetrasi lebih dalam pada masyarakat Indonesia.
Vincent mengatakan pihaknya sudah siap terlibat dalam implementasi standardisasi QRIS.
Pertumbuhan masyarakat nontunai akan semakin signifikan dengan terintegrasinya sistem pembayaran QR Code ini. Transaksi masyarakat bisa dilakukan dengan satu platform untuk pembayaran transportasi, jual beli maupun belanja online.