Muhammad Nazarudin Latief
02 Desember 2018•Update: 03 Desember 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Program perluasan kewajiban penggunaan biodiesel 20 persen (B20) berhasil meningkatkan penyerapan produksi Crude Palm Oil (CPO) di Indonesia, ujar pengusaha kelapa sawit.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan sejak September serapan CPO dalam negeri sudah mencapai 400 ribu ton, dan Oktober naik lagi menjadi 519 ribu ton. Padahal pada Januari - Agustus hanya pada kisaran 215-290 ton per bulan.
“Pergerakan positif penyerapan CPO dalam negeri ini membawa dampak pada stok CPO,” ujar dia pada sebuah pernyataan pers, Minggu.
Angka ini, menurut Mukti akan terus meningkat mengingat implementasi perluasan B20 belum maksimal dan upaya pemerintah memperbaiki distribusi biodiesel.
Jika serapan maksimal, maka pada 2019 biodiesel akan menyerap 6 juta ton CPO.
Angka ini akan terus naik karena optimisme untuk menerapkan kebijakan B30 pada 2020 menguat karena roadtest program ini akan digelar tahun depan.
“Jadi pasokan ke pasar global akan dapat berkurang. Kita tidak lagi mengandalkan ekspor,” ujar dia.
Ekspor komoditas ini memang sering berhadapan dengan ketidakpastian harga di tingkat global. Sepanjang Oktober ini harga bergerak pada kisaran USD512,5-537,5 per metrik ton dan rata-rata 527,1 per metrik ton.
Ini harga yang sangat rendah dan diperkirakan akan terus tertekan karena harga minyak nabati lain juga jatuh, khususnya kedelai. Sementara stok minyak sawit di Indonesia di Malaysia masih melimpah.
Ekspor membaik
Ekspor CPO dan turunannya termasuk olechemical dan biodiesel pada Oktober juga membaik. Tercatat naik hingga 5 persen dibanding bulan sebelumnya, dari 3,19 juta ton menjadi 3,35 juta ton.
Total ekspor hingga Oktober sudah mencapai 4,9 juta ton CPO dan 21,1 juta ton.
Menurut Mukti, geliat pasar global ini didukung permintaan dari Tiongkok yang naik sangat signifikan.
Pada Oktober negara ini meningkatkan impor hingga 63 persen atau dari 332,5 ribu ton pada September menjadi 541,8 ribu ton. Khusus biodiesel, Tiongkok yang mulai mengimpor sejak Mei lalu, hingga Oktober ini sudah mencapai angka impor 637,4 ribu ton.
“Tiongkok mempromosikan penggunaan biodiesel untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Mereka menerapkan B5 di Shanghai dan akan terus meluas,” ujar Mukti.
“Tiongkok juga mengurangi pasokan kedelai dari Amerika sebagai efek perang dagang.”
Kenaikan impor kelapa sawit yang cukup signifikan juga dicatatkan oleh Pakistan, yaitu sebesar 76 persen. Dari 140 ribu ton menjadi 246,9 ribu ton. Lonjakan ini dipicu karena harga sawit yang turun di pasaran, sehingga mereka bisa mengisi stok kelapa sawit setelah beberapa bulan memperlambat impor karena defisit neraca perdagangan.