İqbal Musyaffa
11 April 2019•Update: 12 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pengamat ekonomi mengatakan kenaikan tarif kargo berdasarkan surat muatan udara (SMU) yang dilakukan maskapai sejak awal tahun ini berdampak negatif ke sektor logistik dengan adanya penyesuaian tarif layanan logistik.
Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan dampak paling besar terasa di Indonesia bagian timur karena sebagian besar pengiriman logistik menggunakan angkutan udara.
Menurut dia, imbas lainnya dari kenaikan biaya jasa logistik ini akan membuat bisnis e-commerce cepat atau lambat akan mengalami tekanan.
“Padahal dalam setahun nilai transaksi melebihi Rp100 triliun dari e-commerce,” ujar Bhima saat dihubungi, Kamis.
Selain itu, Bhima menambahkan kenaikan tarif ini juga akan ada mendorong perubahan perilaku konsumen yang akan lebih memilih layanan logistik dengan tarif termurah.
Dia melanjutkan dampak lainnya adalah akan terjadi pergeseran pangsa pasar. Perusahaan logistik dengan tarif termurah akan banyak dipilih masyarakat.
“Bisnis logistik memang sensitif terhadap perubahan harga,” ungkap Bhima.
Sebagai informasi, kenaikan tarif jasa logistik telah dilakukan oleh beberapa perusahaan logistik seperti PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang menaikkan ongkos kirim (ongkir) hingga mencapai 19 persen secara nasional yang berlaku sejak 21 Maret 2019 lalu.
Begitu juga PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI) yang ikut menaikkan tarif secara bertahap yang besaran kenaikannya bergantung pada besaran kenaikan tarif kargo udara di tiap kota. Bahkan J&T Express sudah menaikkan ongkos kirimnya sejak Desember 2018.
Perbandingan kenaikan tarif logistik beberapa perusahaan untuk pengiriman dengan berat barang 1 kilogram (kg) dari Jakarta ke Balikpapan dengan paket reguler antara lain
1. JNE – Rp 40.000 menjadi Rp 49.000
2. Tiki – Rp 39.000 menjadi Rp 48.000
3. Pos Indonesia – Rp 46.000 menjadi Rp 51.000
4. J&T – Rp 35.000 menjadi Rp 46.000
5. RPX Express – Rp 37.000 menjadi Rp 63.000
Meski begitu, masih ada juga beberapa pemain logistik ekspres yang menggunakan harga lama dan tidak mengacu pada kenaikan tarif kargo seperti Lion Parcel dan SiCepat.
Chief Marketing officer PT SiCepat Ekspres Indonesia (SiCepat) Wiwin Dewi Herawati mengatakan bahwa kenaikan tarif pada industri ini memang tidak bisa dihindari, karena beberapa komponen dalam proses logistik terdapat biaya-biaya yang harus disesuaikan.
“Sejak SiCepat berdiri tahun 2014, baru pada 18 Januari 2019 lalu kita menaikkan tarif hingga 15 persen,” ungkap dia.
Meski begitu, Wiwin mengatakan kenaikan tersebut tidak berlaku nasional.
“Ada beberapa wilayah yang tidak mengalami kenaikan tarif karena tidak perlu menggunakan pesawat udara,” kata dia.
Wiwin menambahkan walaupun ada kenaikan tarif, tren pengiriman barang melalui jasa perusahaan logistik akan tetap mengalami kenaikan.
“Sebab tren belanja online terus meningkat dan berdampak pada peningkatan pengiriman barang melalui perusahaan logistik,” tambah Wiwin.
Dia menjelaskan agar kenaikan tarif tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat, saat ini banyak penjual online atau e-commerce, termasuk perusahaan logistik, menyiasatinya dengan memberi subsidi pengiriman hingga memberikan diskon ongkos kirim bagi setiap member atau pelanggan.
“Untuk pelanggan loyal ada beberapa program menarik yang diberikan, pengantaran cepat sampai meskipun bayar ongkir tarif reguler tetap dipertahankan sehingga pelanggan tetap puas,” ujar Wiwin.
Perusahaan logistik lain yang tidak menaikkan tarif seperti Lion Parcel karena saat ini perusahaan tersebut tengah fokus mengembangkan pengiriman melalui jalur darat bekerja sama dengan PT KAI Logistik (KALOG).
Penandatanganan kerja sama tersebut juga telah dilakukan pada Maret 2019 kemarin oleh Chief Executive Officer (CEO) Lion Parcel Farian Kirana dan Plt Direktur Utama KALOG Junaidi Nasution.
Farian mengatakan kerja sama dengan KALOG merupakan alternatif jalur distribusi barang selain udara.
“Langkah tersebut diharapkan dapat menekan harga pengiriman barang,” ujar dia.
Selain itu, Farian menambahkan kerja sama ini juga ditujukan untuk mempercepat waktu pengiriman barang serta untuk melayani daerah-daerah yang belum dilayani oleh jalur udara.
“Dengan KALOG beberapa rute bisa lebih ekonomis dan lebih cepat dari pesawat,” jelas Farian.