Muhammad Latief
05 September 2017•Update: 05 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Japan Overseas Infrastructure Investment Corporation for Transport and Urban Development (JOIN) menawarkan skema pembangunan kota baru untuk mengatasi kesemrawutan kota besar di Indonesia.
Kota baru ini berupa pusat perekonomian dengan tata kota ramah lingkungan dan tersebar di beberapa wilayah, ujar Executive Officer JOIN Noriyoshi Torigoe dalam seminar Indonesia-Japan Urban Development & Housing yang juga dihadiri sejumlah pengusaha Jepang di Jakarta, Selasa.
“Jepang berpengalaman membiayai kota-kota baru ini dengan kredit jangka panjang,” ujarnya.
Kemacetan Jakarta, menurutnya, terjadi karena sejumlah kegiatan yang memiliki daya tarik kuat terpusat di situ, seperti pemerintahan, perkantoran dan pertokoan sekaligus. Padahal seharusnya, daya tarik ini menyebar ke setiap penjuru kota, sehingga kondisi lalu lintas pada wilayah utara-selatan, barat-timur dan pusat kegiatan ekonomi merata.
Saat ini sejumlah kota mandiri dengan daya tarik kuat telah hadir di kawasan Tangerang, Bekasi, Cikarang, dan Bogor.
“Salah satu cara mengatasi kemacetan ini dengan mendirikan pusat-pusat daya tarik itu ke sekitar Jakarta. Sehingga, pergerakan warga tidak hanya menuju Jakarta,” ujarnya.
Saat ini, pihaknya sedang melakukan “ekspor teknologi infrastruktur Jepang” untuk membantu negara-negara lain membangun wilayahnya. Dalam program ini, pihaknya akan membantu membangun kota dari hulu ke hilir, dengan dukungan dana dari Japan International Cooperation Agency (JICA).
Salah satu yang digarap adalah pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta di bagian utara-selatan dan timur-barat kota ini. “Untuk fase pertama, diharapkan pada Maret 2019 (MRT) sudah bisa beroperasi.”
Masalah lain yang ditawarkan Jepang adalah pembangunan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Rumah ini nanti dibangun dengan kualitas baik dan tahan gempa. “Sekaligus juga kredit perumahannya.”