Muhammad Nazarudin Latief
03 Oktober 2018•Update: 03 Oktober 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bertemu Menteri Ekonomi Federal (Federal Councillor) Swiss Johann N. Schneider Ammann di Zurich membicarakan finalisasi perundingan Indonesia-European Free Trade Association (EFTA) Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA), Selasa.
Menurut Menteri Enggar, EFTA adalah pasar potensial karena memiliki pendapatan per kapita tertinggi di dunia. Mereka juga bisa dijadikan pintu menuju pasar Uni Eropa yang hingga kini belum memiliki perjanjian dagang dengan Indonesia.
"Perundingan kita dengan pihak lain adalah untuk secara aktif mengintervensi pasar global di tengah-tengah sentimen negatif proteksionis di beberapa belahan dunia saat ini," ujar Menteri Enggar melalui keterangan tertulis.
EFTA adalah blok perdagangan yang berisi negara-negara Eropa yang tidak tergabung dalam Uni Eropa. Mereka adalah Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein.
Selama ini Indonesia belum memanfaatkan peluang pasar negara-negara EFTA secara maksimal, kata Menteri Enggar.
Lebih lanjut Mendag menegaskan bahwa dengan perjanjian IE-CEPA ini maka Indonesia menunjukkan konsistensinya sebagai negara yang siap berkompetisi dengan negara lain.
Pada pertemuan bilateral ini, kedua negara sepakat untuk menyelesaikan perundingan IE-CEPA pada 2018.
Selanjutnya, ketua juru runding kedua delegasi akan bertemu kembali membahas isu-isu terakhir, dan diharapkan ada kesepakatan final bagi kedua negara sehingga perundingan dapat di selesaikan di Bali, pada 28-31 Oktober 2018 mendatang.
"Indonesia akan secara konsisten memperjuangkan kepentingannya di berbagai isu. EFTA juga melakukan hal yang sama," ujar Menteri Enggar.
"Pada saat ini semua isu mengerucut dan nanti harus ada ‘deal/konsesi’ yang disepakati kedua pihak. Itulah konsesi negosiasi."
Duta Besar Indonesia di Bern, Muliaman Hadad, menyampaikan produk Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk dikembangkan di pasar Swiss.
Produk unggulan yang sudah masuk ke Swiss seperti emas, kopi, coklat, tekstil dan produk tekstil serta alas kaki.
Produk potensial Indonesia lainnya seperti produk berbahan baku kayu seperti furnitur dan kerajian, produk olahan hasil laut seperti rumput laut dan udang serta produk
berbahan alami seperti minyak atsiri.
“Dengan diberlakukannya IE-CEPA nantinya, tentu akan meningkatkan nilai perdagangan kedua negara secara signifikan,” tandas Muliaman.
Hasan menambahkan bahwa Indonesia termasuk negara yang aktif dalam memperjuangkan pengamanan perdagangannya di forum WTO.
“Tindakan pengamanan perdagangan untuk melindungi produk dalam negeri adalah wajar dan dilakukan juga oleh semua negara di dunia. Namun agar kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak bertentangan dengan aturan WTO, kami sangat terbuka untuk melakukan konsultasi dengan setiap Kementerian/Lembaga terkait di Indonesia,” imbuhnya.