Ekonomi

Indonesia dorong peningkatan nilai tambah ekspor tambang

Indonesia bisa melakukan hilirasi karena memiliki potensi bahan baku pertambangan, berbeda dengan beberapa negara lain

İqbal Musyaffa   | 12.09.2018
Indonesia dorong peningkatan nilai tambah ekspor tambang Ilustrasi tambang batubara dan mineral. (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Iqbal Musyaffa

JAKARTA

Badan Usaha Milik Negara sektor tambang memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah dari produk pertambangan yang diekspor, kata pejabat kementerian, Rabu.

Pemerintah terus mendorong peningkatan nilai tambah dari ekspor tambang, karena selama ini Indonesia lebih banyak mengekspor material tambang mentah yang belum diolah, ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno.

Menteri Rini mengatakan Indonesia memiliki keuntungan untuk melakukan hilirasi karena memiliki potensi bahan baku pertambangan, berbeda dengan beberapa negara lain.

“Ini menjadi keuntungan untuk daya saing kita,” tegas dia.

Sepanjang tahun 2018, holding industri pertambangan yang terdiri dari PT Inalum, PT Antam, PT Bukit Asam, dan PT Timah memproyeksikan pendapatan devisa dari ekspor produk pertambangan sebesar USD2,5 miliar atau sekitar Rp39 triliun.

Produk tambang yang diekspor Indonesia berdasarkan data dari PT Inalum adalah aluminium, bauksit, nikel, ferronikel, emas dan perak, batubara, serta timah.

Pendapatan dari ekspor tersebut bersumber dari ekspor yang dilakukan PT Antam sebesar USD1,04 miliar, PT Bukit Asam sebesar USD829 juta, PT Timah sebesar USD563 juta, dan PT Inalum sebesar USD79 juta.

Target pendapatan dari ekspor pertambangan tahun ini lebih baik dari realisasi tahun lalu yang mencapai USD1,89 miliar.

Meskipun saat ini ekspor pertambangan sangat baik, sebut Menteri Rini, tapi tetap harus dijadikan catatan oleh holding industri pertambangan untuk meningkatkan hilirisasi dari produk pertambangan.

Oleh karena itu, dia menekankan dalam waktu 3 hingga 5 bulan ke depan realisasi dari hilirisasi produk pertambangan bisa terealisasi. “Saya yakin daya saing Indonesia itu dari proses lanjutan produk tambang,” tekan dia.

Dengan adanya hilirisasi, menurut Rini, juga akan menyerap lebih banyak tenaga kerja, selain meningkatkan pendapatan devisa hasil ekspor.

Presiden Direktur Inalum selaku perusahaan induk dari holding industri pertambangan Budi Gunadi Sadikin mengakui apabila yang diekspor adalah produk turunan pertambangan, maka devisa yang akan diterima bisa lebih besar dari USD2,5 juta.

“Saat ini kita masih mengekspor bahan mentah berupa bauksit, nikel, dan batu bara,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Budi membandingkan besaran devisa yang akan diterima dari ekspor produk hilirasi pertambangan. Devisa yang diperoleh PT Antam dari ekspor nikel sepanjang tahun ini sebesar USD128 juta dolar untuk volume sejumlah 4,68 juta ton.

PT Antam, menurut Budi, juga mengekspor ferronikel sebagai produk turunan nikel. Nilai ekspor yang diterima dari hasil ekspor ferronikel lebih besar dari nikel yakni senilai USD356 juta untuk volume ekspor yang hanya 24.650 ton.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bukit Asam Ariviyan Arifin mengatakan pada Desember nanti akan melakukan groundbreaking pembangunan pabrik pengolahan batu bara di Sumatera Selatan.

Hilirasi tersebut akan membuat batubara menjadi gas (syngas) yang kemudian dapat diolah kembali menjadi dimethyl ether (DME) yang dapat digunakan untuk bahan bakar, bahan baku pupuk urea, polipropilena sebagai bahan baku plastik.

“Kita akan lebih kompetitif dan bisa menghasilkan pupuk lebih mudah untuk petani,” jelas Ariviyan.

Dia mengatakan pupuk Indonesia akan bisa bersaing dengan pupuk impor asal China, karena China juga menggunakan gas yang berasal dari batubara untuk memproduksi pupuk.

Pabrik hilirisasi batu bara, menurut dia, akan memulai operasional secara komersil pada November 2022. Pabrik tersebut nantinya akan mampu memenuhi permintaan pasar untuk pupuk urea sebanyak 500 ribu ton, DME sebanyak 400 ribu ton, dan 450 ribu ton untuk polopropilena.

Hasil dari produksi hilirasi batubara tersebut lanjut Ariviyan, akan diserap oleh PT Pertamina dan PT Pupuk Indonesia sebagai offtaker-nya.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.