Iqbal Musyaffa
15 April 2020•Update: 15 April 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan total nilai ekspor Indonesia pada Maret mencapai USD14,09 miliar.
Jumlah tersebut meningkat 0,23 persen dari ekspor Februari yang sebesar USD14,06 miliar, namun turun 0,2 persen dari Maret 2019 yang sebesar USD14,12 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan ekspor Maret 2020 terdiri dari ekspor migas sebesar USD0,67 miliar dan ekspor nonmigas sebesar USD13,42 miliar.
Bila dilihat berdasarkan sektor, ekspor migas yang sebesar USD0,67 miliar mengalami penurunan baik secara bulanan (month to month) sebesar 16,29 persen ataupun tahunan (year on year) sebesar 40,91 persen.
Kemudian jumlah ekspor pada sektor pertanian yang sebesar USD0,32 miliar terjadi peningkatan sebesar 6,1 persen (month to month) akibat peningkatan ekspor tanaman obat aromatik dan rempah-rempah, buah-buahan seperti pisang, manggis, dan pir, serta ekspor hasil hutan bukan kayu, dan sarang burung.
“Ekspor pertanian secara year on year juga meningkat 17,82 persen,” ujar Suhariyanto dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu.
Selanjutnya, ekspor pada sektor industri pengolahan sebesar USD11,12 miliar mengalami penurunan sebesar 0,2 persen secara bulanan akibat penurunan ekspor kimia dasar organik dari minyak, pakaian jadi tekstil, pakaian tekstil lainnya, dan timah.
“Sementara itu, ekspor industri pengolahan secara tahunan meningkat 7,41 persen,” kata Suhariyanto.
Dia menambahkan untuk ekspor pada sektor pertambangan sebesar USD1,98 miliar meningkat 9,23 persen secara bulanan akibat peningkatan ekspor batu bara, bijih tembaga, dan bijih logam lainnya.
Sementara secara tahunan terjadi penurunan ekspor sebesar 16 persen karena penurunan ekspor batu bara, bijih tembaga, lignit, dan bijih logam lainnya.
“Ekspor nonmigas pada Maret menyumbang 95,22 persen dari total ekspor,” jelas dia.