JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi Indonesia pada bulan Oktober sebesar 0,02 persen month to month sementara secara year on year sebesar 3,13 persen.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang terlihat dari naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran seperti kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,45 persen.
“Seluruh subkelompok pada kelompok ini mengalami inflasi, yaitu subkelompok makanan jadi sebesar 0,47 persen, subkelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 0,38 persen, dan subkelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 0,43 persen,” ujar Suhariyanto di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan kelompok ini pada Oktober 2019 memberikan sumbangan inflasi nasional sebesar 0,08 persen.
Suhariyanto menjelaskan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah nasi dengan lauk, mie, es, rokok kretek filter, dan rokok putih masing-masing sebesar 0,01 persen.
Sementara itu, inflasi juga disumbang oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar juga mengalami kenaikan 0,08 persen.
Kelompok ini pada Oktober 2019 memberikan sumbangan inflasi nasional sebesar 0,02 persen.
Seluruh subkelompok pada kelompok ini mengalami inflasi, yaitu subkelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,05 persen, subkelompok bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 0,07 persen, subkelompok perlengkapan rumah tangga dan subkelompok penyelenggaraan rumah tangga masing-masing sebesar 0,15 persen
Suhariyanto melanjutkan inflasi juga terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,08 persen.
Kelompok ini pada Oktober 2019 tidak memberikan andil terhadap inflasi nasional.
Dari 4 subkelompok pada kelompok ini, 3 subkelompok mengalami inflasi dan 1 subkelompok tidak mengalami perubahan.
Subkelompok yang mengalami inflasi, yaitu subkelompok sandang laki-laki sebesar 0,05 persen, subkelompok sandang wanita sebesar 0,14 persen, dan subkelompok sandang anak-anak sebesar 0,08 persen.
Sementara subkelompok yang tidak mengalami perubahan, yaitu subkelompok barang pribadi dan sandang lain.
Selanjutnya, Inflasi juga terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 0,30 persen dan memberikan andil terhadap inflasi nasional sebesar 0,01 persen.
Seluruh subkelompok pada kelompok ini mengalami inflasi, yaitu subkelompok jasa kesehatan sebesar 0,15 persen, subkelompok obat-obatan sebesar 0,71 persen, subkelompok jasa perawatan jasmani sebesar 0,12 persen, dan subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0,29 persen.
Suhariyanto melanjutkan kelompok lain yang mengalami inflasi adalah kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,10 persen dan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,01 persen.
Seluruh subkelompok pada kelompok ini mengalami inflasi antara lain subkelompok pendidikan sebesar 0,10 persen, subkelompok kursus-kursus sebesar 0,06 persen, subkelompok perlengkapan pendidikan sebesar 0,07 persen, subkelompok rekreasi sebesar 0,06 persen, dan subkelompok olahraga sebesar 0,14 persen.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,41 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,08 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah cabai merah sebesar 0,09 persen, telur ayam ras sebesar 0,03 persen, cabai rawit sebesar 0,02 persen, ikan segar, kentang, cabe hijau, dan bawang putih masing-masing sebesar 0,01 persen.
Sementara komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah daging ayam ras sebesar 0,05 persen, bawang merah sebesar 0,02 persen, beras, ketimun, tomat sayur, dan jeruk masing- masing sebesar 0,01 persen.
Kelompok lainnya yang mengalami deflasi adalah transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,08 persen dan memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,02 persen.
Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi yaitu tarif angkutan udara sebesar 0,02 persen.
news_share_descriptionsubscription_contact
