Megiza Soeharto Asmail
29 Maret 2018•Update: 30 Maret 2018
Ovunc Kutlu
NEW YORK
Presiden Amerika Serikat Donald Trump "terobsesi" dengan Amazon dan ingin mengejar perusahaan dengan peraturan pajak dan undang-undang persaingan, menurut laporan hari Rabu.
"Dia terobsesi dengan Amazon," menurut outlet media Axios yang mendasarkan laporannya pada lima sumber yang dekat dengan presiden.
"Dia bertanya-tanya apakah mungkin ada cara untuk mengejar Amazon dengan undang-undang anti monopoli atau persaingan," kata satu sumber.
Dengan booming belanja online, toko ritel dan pusat perbelanjaan telah berjuang dalam beberapa tahun terakhir untuk menjaga pintu mereka terbuka dan menarik pelanggan yang lebih suka menghindari keramaian dan dari komputer atau ponsel mereka.
Dengan berbagai produk dan kemudahan penggunaannya, Amazon dipandang oleh banyak orang sebagai tantangan ritel tradisional.
Menurut Axios, "Teman-teman Trump yang kaya mengatakan kepadanya bahwa Amazon menghancurkan bisnis mereka. Teman-teman real estatnya memberitahunya - dan dia setuju - bahwa Amazon membunuh dan menghancurkan pusat perbelanjaan."
Trump mengkritik raksasa e-commerce yang menguasai musim panas lalu dengan berkata lewat akun Twitternya: "Amazon melakukan kerusakan besar pada pengecer yang membayar pajak. Kota, kota, dan negara bagian di seluruh AS sedang disakiti - banyak pekerjaan hilang!"
Presiden AS itu juga dilaporkan menuding Amazon memperoleh manfaat dari pajak rendah yang berlaku pada ritel online dan dari Layanan Pos AS yang menawarkan pengiriman cepat dan biaya rendah ke jutaan tempat di AS.
"Telah dijelaskan kepadanya dalam beberapa pertemuan bahwa persepsinya tidak akurat dan bahwa kantor pos benar-benar menghasilkan banyak uang dari Amazon," kata salah satu sumber kepada Trump, menurut laporan itu.
Mahkamah Agung AS pada bulan Januari mengumumkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan pajak dari penjualan online dan diharapkan untuk memutuskannya sebelum akhir tahun ini.
Trump juga telah vokal kepada pendiri dan CEO Amazon Jeff Bezos dan kepemilikannya atas The Washington Post.
"The #AmazonWashingtonPost, yang kadang-kadang disebut sebagai wali Amazon tidak membayar pajak internet [yang seharusnya] adalah FAKE NEWS !," katanya di Twitter pada bulan Desember 2015.
"The @washingtonpost kehilangan uang [deduksi] dan memberi pemilik @JeffBezos kekuatan untuk mengacaukan publik dengan pajak rendah @Amazon! Penampung pajak yang besar," imbuhnya.
Dalam laporan tersebut, Bezos dan Amazon dilaporkan telah kehilangan jutaan dolar sejak itu. Nilai saham perusahaan turun lebih dari 7 persen ke level USD 1,387 pada pukul 11.20 (1620GMT).
Setelah nilai pasar mencapai sekitar USD 724 miliar pada penutupan Senin, kapitalisasi pasar perusahaan juga turun menjadi USD 670 miliar.
Sementara Amazon melihat kerugian pasar sebesar USD 54 miliar, perusahaan itu sontak jatuh di belakang Microsoft ke posisi ketiga di antara perusahaan paling berharga di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar.
Bezos memiliki 17 persen saham Amazon dan kekayaan bersih pribadinya turun USD 9 miliar menjadi sekitar USD 115 miliar.
Meski begitu, tidak ada yang menangis untuk Bezos. Pasalnya hingga kini, dia masih menduduki peringkat teratas daftar orang terkaya versi Forbes 'dengan USD 25 miliar, lebih dari co-founder Microsoft Bill Gates.