Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Selama Juli 2019, komoditas cabai merah dan cabai rawit menjadi dilaporkan telah menjadi penyumbang utama inflasi.
Selama Juli 2019, inflasi bulanan (mtm) di Juli sebesar 0,31 persen dan 3,32 persen (yoy).
Kepala BPS Suhariyanti mengatakan komponen pengeluaran bahan makanan mengalami inflasi 0,8 persen dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,17 persen.
Dia mengungkapkan cabai merah memberikan andil inflasi 0,2 persen sementara cabai rawit memberikan andil inflasi 0,06 persen.
“Ketergantungan kita terhadap cabai segar ini luar biasa dan berulang-ulang kita sampaikan untuk mulai mengkonsumsi cabai kering dan tidak perlu selalu fresh,” urai Suhariyanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Sementara itu, beberapa komoditas pangan ada yang mengalami deflasi seperti bawang merah dengan andil terhadap inflasi -0,06 persen dan bawang putih -0,02 persen.
Selanjutnya, kelompok pengeluaran makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami inflasi 0,24 persen dengan andil 0,04 persen.
Kemudian, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi 0,14 persen dengan andil 0,04 persen yang utamanya karena kenaikan upah tukang bukan mandor dengan andil inflasi 0,01 persen.
Suhariyanto melanjutkan inflasi pada kelompok pengeluaran sandang mengalami inflasi 0,7 persen dengan andil 0,04 persen akibat kenaikan harga emas perhiasan mengikuti harga internasional yang terjadi di 76 kota IHK.
Untuk kelompok kesehatan Suhariyanto mengatakan tidak ada masalah dengan inflasi 0,18 persen dengan andil 0,01 persen.
Selanjutnya, Suhariyanto mengatakan terjadi inflasi pada kelompok pendidikan sebesar 0,92 persen dengan sumbangannya terhadap inflasi Juli 0,07 persen.
“Penyebab inflasi pada kelompok ini adalah uang sekolah SMA yang mengalami inflasi sebesar 0,02 persen, uang sekolah SD dan SMP serta Bimbel dengan inflasi masing-masing 0,01 persen,” urai dia.
Suhariyanto mengatakan hal ini bisa dipahami karena BPS ketika menghitung inflasi juga termasuk pada sekolah-sekolah swasta.
“Dan ini hal biasa terjadi tiap tahun di bulan Juli,” kata Suhariyanto.
Kemudian pada kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan menurut Suhariyanto mengalami deflasi 0,36 persen dengan andil terhadap inflasi Juli -0,06 persen.
“Deflasi ini akibat turunnya tarif angkutan antar kota dengan andil -0,04 persen dan tarif angkutan udara juga turun dengan andil pada inflasi -0,03 persen,” jabar Suhariyanto.
Menurut dia, pemerintah sudah menurunkan tarif batas atas pesawat udara pada 11 Juli lalu dan diskon harga tiket pesawat setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 10.00-14.00 WIB sehingga membuat terjadinya deflasi pada tarif angkutan udara di 41 kota IHK.
Selanjutnya, deflasi juga terjadi pada tarif kereta api dengan andil terhadap inflasi -0,01 persen.
“Inflasi terbesar masih terjadi pada harga bergejolak sebesar 0,89 persen dengan andil 0,18 persen,” jelas dia.
Sementara inflasi inti sebesar 0,33 persen dengan andil 0,2 persen, dan harga yang diatur pemerintah alami deflasi 0,36 persen andilnya terhadap inflasi -0,07 persen,” urai Suhariyanto.
Secara umum dia merinci penyebab utama inflasi Juli adalah kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, emas, dan uang Sekolah Menengah Atas.
Sementara yang mengalami penurunan harga dan menyebabkan deflasi antara lain beberapa komoditas makanan seperti bawang merah dan bawang putih, tarif angkutan darat antar kota, tarif angkutan udara, dan tarif kereta api.