Erric Permana
12 Juni 2018•Update: 12 Juni 2018
Erric Permana
JAKARTA
Khatib Aam Nahdhatul Ulama Yahya Cholil Staquf menyatakan kedatangan dirinya ke Israel atas nama pribadi dan tidak atas nama Indonesia ataupun organisasi Nahdhatul Ulama.
Hal ini disampaikan Yahya Staquf melalui isi pidatonya saat menjadi pembicara atas undangan Israel Council on Foreign Relations. Yahya menggambarkan bahwa penderitaan Palestina merupakan penderitaan bangsa Arab dan dunia Islam.
“Saya datang atas nama kegelisahan dan kesedihan saya pribadi. Kegelisahan dan kesedihan yang tumbuh diatas kesaksian saya akan penderitaan orang-orang Palestina,” ujar Yahya
Mengutip pernyataan Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid, Yahya menyebutkan bahwa selama ini penyelesaian konflik Israel - Palestina hanya melalui langkah politik dan militer.
“Menurut orang itu [Gus Dur], upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini hanya mempertimbangkan aspek-aspek politik dan militer, melibatkan hanya pemimpin-pemimpin politik dan militer, dan terbukti gagal,” tambah dia.
Menurut dia, cara yang paling tepat untuk menyelesaikan konflik adalah menghilangkan permusuhan dan kebencian antar sesama.
“Hilangnya permusuhan adalah soal pilihan. Apakah kita memilih dendam atau memaafkan? Apakah kita memilih kebencian atau kasih-sayang?” tanya dia.
Menurut dia, jika untuk mencapai perdamaian bukanlah pilihan yang mudah. Namun, pilihan untuk menghilangkan permusuhan dendam tidak dijalani, maka tidak akan ada jalan keluar sama sekali.