Dunia

WHO: iklim, kesehatan terkait erat

Laporan yang dirilis badan kesehatan PBB ini mendesak tindakan tegas pada konferensi perubahan iklim COP26 di Skotlandia

Peter Kenny   | 12.10.2021
WHO:  iklim, kesehatan terkait erat Ilustrasi (Foto file - Anadolu Agency)

JENEWA 

Iklim dan kesehatan terkait erat, sehingga negara-negara harus menetapkan komitmen ambisius untuk mempertahankan pemulihan yang sehat dan hijau dari pandemi virus korona, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin.

“Pandemi Covid-19 telah menunjukkan ada  hubungan yang erat dan halus antara manusia, hewan, dan lingkungan kita,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

WHO merilis laporan khusus tentang Perubahan Iklim dan Kesehatan menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Glasgow, Skotlandia yang dikenal sebagai COP26 dari 31 Oktober hingga 12 November.

Laporan tersebut menguraikan resep  tindakan iklim untuk komunitas kesehatan global berdasarkan penelitian yang berkembang dalam membangun banyak hubungan tak terpisahkan antara iklim dan kesehatan.

WHO menyerukan kepada semua negara untuk berkomitmen pada tindakan tegas di COP26 untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius– “bukan hanya karena itu hal yang benar untuk dilakukan, tetapi karena itu untuk kepentingan kita.”

WHO mengatakan laporannya menggarisbawahi 10 prioritas untuk menjaga kesehatan manusia dan planet yang menopang umat manusia.

Peluncuran laporan itu bertepatan dengan surat terbuka yang ditandatangani oleh lebih dari dua pertiga tenaga kesehatan global - 300 organisasi yang mewakili setidaknya 45 juta dokter dan profesional kesehatan di seluruh dunia.


Panggilan untuk para pemimpin nasional

Surat itu menyerukan para pemimpin nasional dan delegasi negara COP26 untuk meningkatkan aksi iklim.

“Di mana pun kami memberikan perawatan, di rumah sakit, klinik, dan komunitas kami di seluruh dunia, kami sudah menanggapi bahaya kesehatan yang disebabkan oleh perubahan iklim,” kata surat itu.

“Kami menyerukan para pemimpin setiap negara dan perwakilan mereka di COP26 untuk mencegah bencana kesehatan yang akan datang dengan membatasi pemanasan global hingga 1,5 °C dan menjadikan kesehatan dan kesetaraan manusia sebagai pusat dari semua tindakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.”

Pelepasan ini juga datang ketika peristiwa cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dampak iklim lainnya mengambil korban yang meningkat pada kehidupan dan kesehatan masyarakat.

“Peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering seperti gelombang panas, badai, dan banjir membunuh ribuan dan mengganggu jutaan nyawa sambil mengancam sistem dan fasilitas perawatan kesehatan saat paling dibutuhkan,” kata WHO.

Dijelaskan bahwa perubahan cuaca dan iklim mengancam ketahanan pangan, meningkatkan penyakit yang ditularkan melalui makanan, air, dan vektor seperti malaria, sementara dampak iklim juga berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

”Pembakaran bahan bakar fosil membunuh kita,” kata laporan itu.

“Perubahan iklim adalah satu-satunya ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia. Meskipun tidak ada yang aman dari dampak kesehatan perubahan iklim, mereka secara tidak proporsional dirasakan oleh mereka yang paling rentan dan kurang beruntung.”

Polusi udara, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil, yang juga mendorong perubahan iklim, menyebabkan 13 kematian per menit di seluruh dunia, menurut WHO.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın