Muhammad Abdullah Azzam
16 Agustus 2019•Update: 17 Agustus 2019
Ali Semerci
YAMAN
Penasihat Presiden Yaman, Abdulmalik Al-Mekhlafi, mengatakan bahwa rakyat Yaman sudah kehilangan kepercayaan kepada pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.
Dalam sebuah pernyataan di akun Twitter-nya, Al-Mekhlafi mengkritik sikap pasukan koalisi terhadap insiden terakhir di ibu kota sementara Yaman, Aden.
Al-Mekhlafi menekankan bahwa pasukan koalisi harus menyadari besar dan bahayanya peristiwa yang terjadi di Aden.
Rakyat Yaman telah kehilangan kepercayaan terhadap pasukan koalisi yang sebelumnya mereka dukung dan percayakan,” ungkap Al-Mekhlafi.
Al-Mekhlafi mengatakan bahwa semua kudeta seperti di Sana’a, Aden, atau di mana saja adalah proyek penghancuran.
"Kudeta baru di Aden adalah replika kudeta di Sana'a, dilakukan dengan klaim dan metode yang sama," tutur dia.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Yaman mendesak UEA untuk segera berhenti mendukung "kelompok-kelompok pemberontak", yang merujuk pada pasukan Sabuk Keamanan yang loyal kepada Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA.
Kementerian menegaskan bahwa koalisi yang dipimpin Saudi melakukan intervensi di Yaman setelah Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi meminta perlindungan legitimasi dari Raja Saudi Salman bin Abdulaziz.
Menurut kementerian, permintaan itu didasarkan pada hukum internasional dan Piagam PBB untuk melindungi Yaman dari kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.
Setelah pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah yang sah selama empat hari, pasukan Sabuk Keamanan kini menduduki sebagian besar institusi negara, termasuk Istana Kepresidenan Maasheeq, di Aden.
Yaman masih dilanda kekerasan sejak 2014, yaitu ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara itu, termasuk ibu kota, Sanaa.
Konflik meningkat di tahun berikutnya ketika Arab Saudi dan sekutu Sunni-Arabnya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk mengalahkan Houthi di Yaman.