BRUSSELS
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell pada Rabu membuat pernyataan untuk meyakinkan bahwa warga Suriah tetap menjadi "prioritas bagi Uni Eropa."
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada peringatan 11 tahun awal "konflik tragis dan berdarah di Suriah," Borrell mengatakan Uni Eropa "berkomitmen penuh" untuk menemukan "solusi politik yang tahan lama dan dapat dipahami di Suriah."
Menggarisbawahi bahwa warga Suriah sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, dia mengatakan bahwa pengungsi Suriah "merupakan krisis pengungsian terbesar di dunia dengan 5,7 pengungsi terdaftar," sementara 6,9 juta orang terlantar lainnya tinggal di negara yang dilanda perang.
Dia menekankan bahwa Uni Eropa tidak akan menormalkan hubungan dengan rezim Suriah Bashar al-Assad, atau berkontribusi pada rekonstruksi negara atau mencabut sanksi sampai kesepakatan tercapai untuk solusi politik dalam konflik sesuai dengan tuntutan PBB.
Pada saat yang sama, dia mengatakan UE "tidak dapat dan tidak akan berpaling karena masa depan Suriah dan rakyatnya disandera dalam konflik tersebut."
Pada 10 Mei, Uni Eropa akan menjadi tuan rumah bersama PBB menggelar Konferensi Brussel keenam tentang Mendukung Masa Depan Suriah untuk mengumpulkan dana bagi rakyat Suriah dan kawasan.
Sejak 2011, Uni Eropa (UE) dan negara-negara anggotanya memobilisasi lebih dari EUR25 miliar (USD27,5 miliar) untuk mendukung rakyat Suriah.
Suriah telah berada dalam perang saudara sejak awal 2011 ketika rezim menindak protes pro-demokrasi.
Menurut angka resmi PBB, lebih dari 350.000 orang kehilangan nyawa mereka karena konflik, tetapi kelompok hak asasi manusia memperkirakan jumlah korban tewas antara 500.000-600.000.
Lebih dari 14 juta harus meninggalkan rumah mereka menjadi pengungsi, menurut UE.
Turki adalah negara tuan rumah terbesar bagi pengungsi Suriah dan memberikan perlindungan internasional kepada hampir 4 juta orang yang melarikan diri dari negara tetangga.