Enes Canlı
ANKARA
Perusahaan-perusahaan Uni Emirat Arab (UEA) mengangkut 11 ribu ton bahan bakar jet ke milisi Jenderal Khalifa Haftar di Libya untuk keperluan militer.
Hal tersebut telah melanggar keputusan embargo Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut harian Financial Times yang berbasis di Inggris, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang diakui oleh PBB melakukan penelitian pada kapal tanker minyak berbendera Liberia "Gulf Petroleum 4", yang disembunyikan oleh perusahaan-perusahaan di dekat Misrata pada akhir bulan lalu.
Bedasarkan dokumen yang dicapai oleh harian tersebut, pasukan GNA mengetahui bahwa perusahaan-perusahaan UEA mengirim 11 ribu ton bahan bakar jet ke kota Benghazi di bawah kendali milisi Haftar bulan lalu.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Perwakilan Khusus PBB untuk Libya Stephanie Williams mengatakan PBB telah menghitung bahan bakar jet yang digunakan sebagai "bahan perang".
Pengiriman ke timur negara itu, ujar Williams, dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap keputusan embargo senjata PBB terhadap Libya.
Williams menuturkan pemasok minyak resmi Libya, yang terbukti memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika, Perusahaan Minyak Nasional Libya, menjadi penyedia bahan bakar jet untuk penerbangan komersial ke daerah timur negara itu.
Dia mengatakan, dengan cara ini impor ilegal bisa dikatakan "kemungkinan besar hanya digunakan untuk angkatan udara yang berafiliasi dengan Haftar".
Pejabat PBB yang berbicara kepada surat kabar itu melaporkan bahwa UEA menolak menyebutkan nama perusahaan-perusahaan itu, meski mereka mengungkapkan perusahaan-perusahaan terkait terdaftar di UEA dan bahan bakarnya dimuat di UEA.
PBB masih melakukan penyelidikan terhadap perusahaan, pihak-pihak dan transaksi transportasi bahan bakar tersebut, yang nilainya mencapai sekitar lima juta dolar setelah dimuat.
Menurut laporan Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) antara tahun 2015-2019, UEA adalah salah satu negara terdepan yang mentransfer senjata dan peralatan militer ke Haftar.
Laporan tersebut menyatakan UEA menyediakan banyak kendaraan udara tak berawak (UAV) bersenjata, dan juga membeli helikopter tempur dari Belarus lalu menyerahkannya kepada milisi Haftar di Libya.
Media internasional melaporkan UEA berada di balik langkah penolakan Haftar menandatangai perjanjian gencatan senjata di meja perundingan yang diprakarsai oleh Turki dan Rusia dan berlaku pada 12 Januari lalu.
UEA juga mengirim ratusan pesawat kargo militer untuk memperkuat milisi Haftar setelah perjanjian gencatan senjata tersebut gagal.
Masih menjadi perdebatan apakah UEA akan melanjutkan dukungan finansial kepada Haftar di tengah krisis ekonomi negara yang mengandalkan ekspor minyak, dan saat harga komoditas energi jatuh pada tingkat rekor terendah di seluruh dunia.
news_share_descriptionsubscription_contact
