Muhammad Abdullah Azzam
11 Maret 2020•Update: 11 Maret 2020
Gozde Bayar, Merve Aydogan
ANKARA
Turki dan Uni Eropa (UE) telah memulai sebuah fase dialog baru namun perkembangannya membutuhkan "langkah konkret" dari UE, ujar Menteri Luar Negeri Turki pada Selasa.
Berbicara pada editorial Anadolu Agency di ibu kota Ankara, Mevlut Cavusoglu mengatakan kondisi telah berubah sejak Maret 2016, di mana Turki dan Uni Eropa pertama kali membuat kesepakatan soal imigran.
"Kami [bersama Uni Eropa] akan membahas apa yang bisa kami lakukan [untuk pengungsi] terkait kondisi terkini," kata Cavusoglu menyoroti Uni Eropa harus bertindak jujur terhadap Turki.
“Turki membutuhkan UE, namun UE juga lebih banyak membutuhkan Turki. Terutama jika ada yang ingin menjadi aktor global,” tambah Cavusoglu.
Cavusoglu menekankan kesepakatan pada 2016 bukan untuk "membuat Turki menjaga pengungsi" tetapi untuk pembebasan visa bagi warga Turki, memungkinkan pengembalian pengungsi Suriah secara aman dan sukarela dan mempercepat proses masuknya Turki ke UE.
Dia mengkritik Eropa karena tidak memberikan dukungan bagi mereka yang mencari suaka dari sana dan tidak menyambut pengungsi dari provinsi Idlib yang sedang menjadi medan perang.
Perbatasan Eropa bukan di perbatasan Turki-Yunani, melainkan di perbatasan selatan dan timur Turki, lanjut Menlu Turki.
Kesepakatan tahun 2016 bertujuan untuk mencegah masuknya migrasi ilegal melalui Laut Aegea dengan mengambil langkah-langkah yang lebih ketat terhadap perdagangan manusia dan meningkatkan kondisi sekitar tiga juta pengungsi Suriah di Turki.
Namun sejak itu jumlah pengungsi Suriah di Turki telah meningkat menjadi 3,7 juta atau lebih bisa jadi banyak lagi, bersama dengan gelombang pengungsi baru satu juta atau lebih yang datang dari Idlib.
Ankara juga berulang kali mengecam kegagalan Eropa untuk menepati janjinya di bawah kesepakatan, termasuk memberikan kurang dari setengah dari EUR6 juta (USD6,8 miliar) dana bantuan untuk pengungsi Suriah di Turki.
-Sikap Yunani ‘aib bagi kemanusiaan’
Cavusoglu mengatakan bahwa negara-negara lain harus mengikuti prosedur tentang pencari suaka sesuai dengan hukum internasional, seperti Turki membuka pintunya.
Dia mengkritik perlakuan Yunani terhadap para pencari suaka yang menunggu di perbatasan Turki-Yunani, menggambarkannya sebagai "aib bagi kemanusiaan."
Ankara baru-baru ini mengumumkan bahwa pihaknya tidak akan lagi mencoba untuk menghentikan para pencari suaka yang ingin mencapai Eropa.
Ribuan pencari suaka sejak itu berbondong-bondong ke provinsi Edirne, Turki - yang berbatasan dengan Yunani dan Bulgaria - untuk menuju Eropa.
Reaksi Yunani terhadap para pencari suaka sangat keras, dengan banyak yang cedera, diserang dengan gas air mata, dan beberapa di antaranya dibunuh oleh pasukan Yunani.