Umar Idris
21 Februari 2021•Update: 22 Februari 2021
Elif Kucuk, Mehmet Kara, Semra Orkan, Ahmet Gencturk
ANKARA
Turki saat ini menjadi contoh yang kebijakannya memberi harapan bagi jutaan orang di wilayahnya, menurut menteri dalam negeri Turki.
Berbicara kepada saluran berita pribadi A Haber pada Sabtu malam, Suleyman Soylu mengatakan Turki, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, telah memetakan jalannya sendiri dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian tatanan dunia baru.
Dalam perang Turki melawan kelompok teroris PKK, Soylu menggarisbawahi kontribusi signifikan yang dibuat oleh produk-produk pertahanan Turki seperti kendaraan udara tak berawak (UAV) dan helikopter tempur ATAK.
Dalam lebih dari 35 tahun kampanye terornya melawan Turki, kelompok PKK, yang terdaftar sebagai kelompok teroris oleh Turki, Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa, bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.
Merujuk pada dugaan keterkaitan Partai Rakyat Demokratik (HDP) dengan teroris PKK, Soylu mengatakan teroris yang menyerah kerap mengaku memiliki hubungan langsung dan organik antara partai politik dan kelompok teror.
Keterlibatan beberapa anggota parlemen dan banyak pejabat partai HDP dalam merekrut teroris untuk kelompok itu cukup jelas, tambahnya.
Pemerintah Turki telah lama menuduh HDP memiliki hubungan dengan teroris PKK.
Mengenai Organisasi Teroris Fetullah (FETO), kelompok di balik kudeta yang dikalahkan pada 2016, Soylu mengatakan bahwa sejak 2016, setidaknya 137 anggota senior FETO dari 31 negara berbeda telah dibawa ke Turki.
"Sumber daya keuangan kelompok itu sangat terkuras. Mereka sekarang terpecah menjadi empat atau lima faksi berbeda yang saling bertarung untuk mengambil alih seluruh kelompok," tambahnya.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, mengatur kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016 di mana 251 orang menjadi martir dan 2.734 terluka.
Turki juga menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan pemimpin negara dengan menginfiltrasi ke dalam lembaga-lembaga Turki, terutama militer, polisi, dan pengadilan.