Turki, Dunia

Turki masih jadi anggota NATO yang tak tergantikan selama 69 tahun

Sejak bergabung dengan NATO pada 1952, Turki adalah salah satu negara anggota yang paling banyak berkontribusi pada aliansi

Merve Gül Aydoğan Ağlarcı   | 15.06.2021
Turki masih jadi anggota NATO yang tak tergantikan selama 69 tahun Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara dalam konferensi pers setelah pertemuan NATO di Brussels, Belgia pada 14 Juni 2021. ( Mustafa Kamacı - Anadolu Agency )

Ankara

Merve Aydogan

ANKARA

Sementara sekutu-sekutu NATO berkumpul untuk pertemuan puncak di Brussel pekan ini, peran dan kontribusi Turki untuk aliansi itu kembali menjadi sorotan, di tengah berlanjutnya ancaman keamanan di wilayah Turki dan Suriah.

Sejak menjadi anggota NATO pada 1952 (hanya tiga tahun setelah pembentukannya), Turki telah menjadi salah satu mitra kontribusi terbesar aliansi, menjadikan kemampuan dan kapabilitasnya sebagai bagian integral dari struktur komando dan kekuatan aliansi, dengan jumlah tentara terbesar kedua.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), didirikan pada 4 April 1949. Saat ini memiliki 30 anggota dan bermarkas di Brussel.

Pada 1952, NATO menambahkan Turki ke jajaran 12 negara pendiri NATO, Belgia, Kanada, Denmark, Prancis, Inggris, Islandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, Portugal, dan Amerika Serikat.

Bulan ini, NATO menandai hari jadinya yang ke-72 di Brussel dengan partisipasi para kepala negara dan pemerintahan.

Landasan aliansi yang sering dikutip adalah berdasarkan Piagam NATO Pasal 5 yang menjamin pertahanan kolektif, yakni serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua.

Turki 'sekutu penting' NATO

Melalui militer dan sistem pertahanannya yang maju, Turki masih menjadi sekutu NATO yang penting, seperti yang dinyatakan oleh pimpinan NATO.

“Saya pikir penting juga untuk diingat bahwa Turki adalah sekutu NATO yang penting. Anda bisa melihat peta dan menyadari pentingnya tanah ini, daratan Turki. Turki adalah satu-satunya negara sekutu NATO yang berbatasan dengan Irak dan Suriah,” kata Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg.

"Turki memainkan peran penting dalam Koalisi Global untuk mengalahkan ISIS [Daesh] dan kami terus bekerja sama dengan Turki dalam menstabilkan pertahanan selatan kami," lanjut dia.

Dia juga menggarisbawahi kontribusi Turki dalam menangani krisis migran dan pengungsi yang sedang berlangsung.

Sejak 2016, Turki telah meluncurkan tiga operasi antiteror, Perisai Eufrat (2016), Ranting Zaitun (2018), dan Mata Air Perdamaian (2019), di perbatasannya dengan Suriah Utara untuk mencegah pembentukan koridor teror dan memungkinkan repatriasi warga Suriah.

Kontribusi Turki

Turki telah menjadi pelopor internasional dalam perang melawan terorisme, terutama melawan teroris YPG/PKK, Daesh/ISIS dan FETO, kelompok di balik upaya kudeta 2016.

Dalam lebih dari 35 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK – yang masuk daftar organisasi teror Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa – telah bertanggung jawab atas kematian hampir 40.000 orang, termasuk perempuan, anak-anak dan bayi. YPG adalah cabang PKK di Suriah.

FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, merancang kudeta pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang tewas dan 2.734 terluka.

Turki juga menuding FETO berada di belakang kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi-institusi Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.

Menurut Pengeluaran Pertahanan NATO dari negara-negara sekutu yang diterbitkan pada 11 Juni, Turki adalah salah satu sekutu utama NATO yang memberikan dukungan berkelanjutan untuk misi aliansi dengan 445 personel militer.

Dengan sekitar USD13,06 juta, Turki termasuk di antara sepuluh sekutu teratas yang telah memberikan kontribusi paling besar untuk pengeluaran pertahanan NATO tahun ini. NATO juga menyebut Turki sebagai kontributor penting untuk misi Dukungan Tegas dengan 600 kontingennya di Afghanistan.

Sebagai bagian dari Misi Dukungan Tegas di Afghanistan, Turki adalah salah satu aktor kunci bersama dengan AS, Jerman, dan Italia.

Dengan 321 personel, Turki adalah anggota pasukan penjaga perdamaian multinasional Pasukan Kosovo (KFOR) NATO di Balkan.

Turki, negara kelima yang paling banyak menyumbang personel di antara sekutu-sekutu NATO, telah menugaskan satu batalyon sebagai Batalyon Cadangan Operasional di dalam KFOR pada 1 September 2020.

Sebagai mitra utama aliansi, Turki menampung pangkalan radar Pertahanan Rudal Balistik NATO di Kota Kurecik, Provinsi Malatya timur.

Turki juga membuka Pangkalan Udara Konya untuk penggunaan pesawat AWACS NATO.

Turki memainkan peran utama dalam pengembangan hubungan antara NATO dan mitranya, terutama di Balkan, Kaukasus, dan Timur Tengah.

Pasukan NATO di Aegea, Laut Hitam

Turki memberikan bantuan angkatan laut permanen untuk misi NATO di Laut Aegea, dalam bentuk pengawasan, pengintaian, dan pemantauan untuk mencegah penyeberangan ilegal.

Turki juga mendukung kegiatan Standing NATO Maritime Groups (SNMG) di Laut Hitam dan Aegea, yang termasuk sebagai bagian dari kewajiban NATO.

Selain itu, Turki juga menjadi tuan rumah LANDCOM, komando darat NATO, di Provinsi Izmir.

NATO Rapid Deployable Corps – salah satu dari sembilan markas besar pasukan darat NATO dengan tingkat kesiapan tinggi – juga ditempatkan di Istanbul.

Turki juga mengambil alih komando Satuan Tugas Gabungan Kesiapan Sangat Tinggi (VJTF) pada 2021.

Dibangun di sekitar Brigade Infanteri Mekanik ke-66 Turki, total sekitar 6.400 tentara akan bertugas di VJTF, menurut NATO.

Kendaraan bersenjata terbaru Turki, rudal anti-tank dan howitzer telah dialokasikan ke gugus tugas.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın