Muhammad Abdullah Azzam
19 Februari 2021•Update: 19 Februari 2021
Faruk Zorlu
ANKARA
Turki belum menerima dukungan yang semestinya dari sekutu NATO-nya soal ancaman terhadap keamanan, kata Direktur Komunikasi Turki Fahrettin Altun pada Kamis.
"Kami mengharapkan komitmen yang sama terhadap keamanan nasional Turki dari sekutu kami, yang keamanan nasionalnya kami janjikan dengan tegas," kata Altun saat berbicara di depan panel berjudul NATO 2030: Bersatu untuk Era Baru pada peringatan 69 tahun keanggotaan Turki di NATO.
Altun menyerukan kepada sekutu NATO untuk berdiri bersama Turki melawan terorisme dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memusnahkan ancaman yang dihadapi Turki.
"NATO dituntut untuk bertindak lebih tegas, lebih efektif, dan lebih proaktif," ujar dia.
Turki menentang setiap langkah di Libya dan Mediterania Timur yang melemahkan sayap selatan NATO, tekan Altun.
"Di Suriah dan Irak, kami sangat menentang upaya mempersenjatai dan mendukung entitas teroris atas nama memerangi terorisme," imbuh dia.
Turki menghadapi tantangan dan ancaman yang tidak dapat dengan mudah diatasi oleh negara mana pun, jadi dalam hal ini, aliansi menjadi semakin penting, tutur dia.
"Izinkan saya menekankan bahwa sikap anti-Turki yang konsisten di Amerika Serikat, yang disebut sebagai sekutu kami, dalam hal perang melawan entitas teroris seperti PKK/YPG dan FETO, sangat menyakitkan," kata Altun.
Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, mengatur kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, di mana 251 orang tewas dan 2.734 lainnya terluka.
Dalam lebih dari 35 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi. YPG adalah PKK cabang Suriah.