Turki, Dunia

Turki ajukan penyelidikan terhadap anggota parlemen Belanda

Jaksa Turki mengajukan investigasi atas postingan anggota parlemen sayap kanan Belanda di Twitter yang menghina presiden Turki

Muhammad Abdullah Azzam   | 17.02.2021
Turki ajukan penyelidikan terhadap anggota parlemen Belanda Wakil Presiden Turki Fuat Octay. (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Cemil Murat Budak, Dilan Pamuk

ANKARA

Jaksa Turki mengajukan penyelidikan ke anggota parlemen sayap kanan Belanda Geert Wilders atas unggahan media sosial yang menghina presiden Turki.

Jaksa di ibu kota Ankara pada Selasa mengatakan penyelidikan terhadap Wilders, yang memimpin Partai Kebebasan Belanda, dibuka karena unggahan Twitter dia "termasuk foto dan penghinaan tertulis terkait Presiden Recep Tayyip Erdogan."

Pada 15 Februari, Wilders membagikan postingan di Twitter yang menghina Erdogan dan menyerukan NATO untuk mengusir Turki, anggota aliansi NATO sejak 1952.

Mengabaikan pernyataan Wilders dan kelompok neo-Nazi, Direktur Direktorat Komunikasi Turki Fahrettin Altun mengatakan "pemerintah yang nampak seperti moderat" di Eropa tampaknya memiliki pandangan yang sama dengan politisi sayap kanan.

Merujuk pada laporan yang bocor oleh Koordinator Nasional Belanda untuk Penanggulangan Terorisme dan Keamanan (NCTV) yang memuat berbagai klaim terhadap komunitas Turki di Belanda, Altun mengatakan bahwa dokumen yang "tidak berdasar, bias, dan bodoh" harus dianggap sebagai perhatian yang lebih besar daripada pernyataan Wilders.

"Turki dan komunitas Turki di Eropa selalu menjadi benteng perlawanan terhadap terorisme dan ekstremisme. Mengatakan sebaliknya berarti melayani rasisme dan Islamofobia," kata Altun.

Secara terpisah, Wakil Presiden Fuat Oktay mengatakan di Twitter, "Geert Wilders, anak manja Eropa. Dia melihat ke cermin dan menceritakan apa yang dia lihat."

Omer Celik, juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) yang berkuasa di Turki, juga mengatakan tentang Wilders, "Jika fasis yang menghina presiden kita hidup selama Perang Dunia II, dia akan menjadi seorang Nazi yang dikutuk sekarang."

"Jika dia tinggal di Timur Tengah sekarang, dia akan menjadi pembunuh Daesh [ISIS]. Dia tinggal di Belanda pada usia ini dan telah menjadi fasis yang jelek, musuh kemanusiaan.

"Fasis buruk ini adalah kandidat pembunuh yang akan mencari cara untuk membunuh imigran yang tidak bersalah jika dia punya kesempatan. Dia telah menjadi salah satu orang yang dikutuk dalam kemanusiaan saat dia masih hidup," lanjut dia.

Celik menambahkan, "Wajar jika fasis ini menghina presiden kami, pemimpin kebijakan merangkul imigran yang melarikan diri dari kematian. Karena fasis terkutuk ini adalah musuh umat manusia."

Turki adalah rumah bagi sekitar empat juta pengungsi Suriah, lebih banyak dari negara mana pun di dunia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın