Maria Elisa Hospita
12 November 2019•Update: 13 November 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat mengatakan pengunduran diri Presiden Bolivia Evo Morales harus dijadikan sebagai peringatan bagi para pemimpin regional lainnya yang berselisih dengan AS.
"Peristiwa-peristiwa ini mengirimkan sinyal kuat kepada rezim tidak sah di Venezuela dan Nikaragua bahwa demokrasi dan kehendak rakyat pada akhirnya akan selalu menang," kata Donald Trump lewat sebuah pernyataan.
Dia juga menyebut kepergian Morales sebagai pergerakan menuju Belahan Bumi Barat yang "sepenuhnya demokratis dan sejahtera".
"Dengan kepergian Morales, demokrasi tetap terjaga dan suara rakyat akhirnya didengar. Bolivia berhasil melindungi tidak hanya satu orang, tetapi konstitusi Bolivia," tambah presiden AS.
Dalam pemilihan presiden pada 20 Oktober di Bolivia, Morales memperoleh 47,8 persen suara, tetapi pihak oposisi mengklaim adanya kecurangan selama pemilu.
Setelah oposisi menyerukan agar hasil pemilu dibatalkan, Morales pun mengumumkan pemilihan baru, tetapi pendukung oposisi tetap melanjutkan aksi protes.
Pada Minggu, Panglima Angkatan Darat Bolivia Williams Kaliman lewat pidato yang disiarkan di televisi meminta Morales untuk mundur.
Morales menyebut insiden ini sebagai "kudeta". Dia memutuskan mundur untuk mencegah pemimpin oposisi Luis Fernando Camacho dan Carlos Mesa mengeluarkan instruksi lebih lanjut kepada para pendukung mereka untuk menyerang warga Bolivia.
Morales telah menjabat sebagai presiden negara itu selama 13 tahun sejak 2006.