Michael Hernandez
06 Maret 2018•Update: 07 Maret 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dia mungkin mengunjungi Yerusalem untuk meresmikan kedutaan AS di sana pada bulan Mei.
"Mungkin, mungkin saja," kata Trump menjawab pertanyaan seorang reporter di Gedung Putih, Senin. "Kalau bisa, saya akan datang."
AS mempercepat rencana pemindahan markas diplomatik mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem bulan lalu. Pembukaan resmi kedutaan baru itu dijadwalkan pada 14 Mei, tepat pada peringatan 70 tahun Israel.
Sebelumnya, pemindahan itu akan dilakukan pada 2019.
Rencana itu menjadi prioritas utama bagi AS setelah pada Trump mengumumkan keputusannya untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Pengumuman ini menuai kritikan dari seluruh dunia, termasuk dari Turki, Uni Eropa, dan PBB.
Yerusalem tetap menjadi pusat konflik Israel-Palestina, dengan Palestina yang mengharapkan Yerusalem Timur -- saat ini masih diduduki Israel -- menjadi ibu kota negaranya kelak.
Saat itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berterima kasih pada Trump karena sudah mengambil langkah terkait Yerusalem.
"Ini akan selalu kami kenang. Pemimpin-pemimpin lain hanya mengutarakan wacana, sedangkan Anda benar-benar melakukan sesuatu," kata Netanyahu.