KYIV, Ukraina
Tim koresponden Anadolu Agency yang bertugas di ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Jumat membantu mengevakuasi seorang mahasiswa Turki yang terjebak di asrama di tengah serangan Rusia yang sedang berlangsung.
Ibrahim Oruk, yang telah belajar di Ukraina selama lima tahun terakhir, mengatakan dia ingin meninggalkan Kyiv segera setelah serangan Rusia, tetapi dia tidak berhasil melakukannya.
Atas permohonan keluarga Oruk -- yang kehilangan kontak dengan pelajar tersebut -- kepada kantor pusat Anadolu Agency di Ankara, koresponden Anadolu Agency di lapangan berhasil menghubungi pelajar tersebut untuk membantunya melarikan diri dengan aman dari negara itu melalui saluran kedutaan Turki ke kereta evakuasi.
Koresponden Anadolu Agency menjemput pelajar tersebut dari asramanya di Kyiv di bawah suara sirene yang memperingatkan tentang serangan-serangan udara pasukan Rusia, dan membawanya ke Kedutaan Besar Turki di Kyiv.
Selama perjalanan ke kedutaan, Oruk mengatakan, "Saya berada di rumah pada hari pertama ketika perang dimulai. Kemudian terdengar sirene, diikuti oleh suara bom. Kemudian, saya mendengar bahwa ada tempat perlindungan di bawah asrama lama. Saya pergi ke sana. Kemudian, saya mencoba keluar, tetapi tidak ada kesempatan."
Melihat pesan kedutaan tentang kereta dan bus evakuasi, Oruk mengatakan taksi dan bus tidak beroperasi.
“Taksi yang beroperasi mulai meminta USD300 dari biaya normal 100-200 lira Turki (USD7-14). Itu sebabnya saya tidak bisa pergi. Saat ini, kalian (tim Anadolu Agency) menjemput saya. Saya bersyukur untuk itu, terima kasih," tutur dia.
Gagal meninggalkan Kyiv sebelumnya
Oruk mencoba pergi dengan dua temannya ke stasiun kereta dengan taksi sebelumnya,
Dia mengatakan mobil mereka dihentikan oleh pasukan lokal Ukraina di sebuah pos pemeriksaan jalan.
“Mereka turunkan kami, setelah itu, mereka memukul kepala pengemudi, padahal dia (pengemudi) orang Ukraina. Terlihat ada darah yang keluar dari kepala pengemudi. Kemudian, ketika saya mencoba mengeluarkan paspor dari saku, mereka memborgol saya ke belakang. Kemudian, setelah menunjukkan dokumen kami, mereka melepaskan kami dan kami harus kembali ke asrama," sebut dia.
Berbicara tentang parahnya serangan Rusia di Kyiv, Oruk mengatakan dua ledakan terdengar dua hari lalu di dekat asramanya.
"Dampak ledakan juga terasa di asrama kami. Pintu bergetar dan jendela pecah. Kami mendengar suara bom," ujar dia.
Oruk dan warga Turki lainnya yang ada di gedung kedutaan akan meninggalkan Kyiv dengan kereta, dalam gerbong yang disiapkan untuk evakuasi warga Turki.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Kamis mengumumkan bahwa jumlah warga Turki yang dievakuasi dari Ukraina mencapai 9.653 orang.
Perang Rusia di Ukraina telah menyebabkan kemarahan internasional, di mana Uni Eropa, AS, Inggris, dan lainnya menerapkan sanksi keuangan yang keras terhadap Moskow.
Namun Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan "operasi militer khusus" akan berlangsung sampai semua tujuan yang ditetapkan tercapai.
Dia mengatakan dia meluncurkan perang pada 24 Februari untuk "demiliterisasi" dan "denazifikasi" Ukraina.
Menurut angka PBB, setidaknya 249 warga sipil telah tewas dan 553 terluka di Ukraina sejak awal perang.
Lebih dari 1,2 juta orang juga telah meninggalkan Ukraina ke negara-negara tetangga, kata badan pengungsi PBB.
news_share_descriptionsubscription_contact
