Muhammad Abdullah Azzam
07 Juli 2020•Update: 08 Juli 2020
Hamdi Yıldız
TRIPOLI
Direktur utama perusahaan minyak nasional Libya mengatakan pasukan asing telah memasuki Pelabuhan Minyak Sidra di timur negara itu dan mereka berupaya menjadikan daerah itu sebagai pusat militer.
Dirut Perusahaan Minyak Nasional Libya Mustafa Sanallah mengatakan kepada saluran televisi Libya Al-Ahrar bahwa ladang minyak El Sharara diduduki oleh tentara bayaran perusahaan keamanan Rusia Wagner sejak 26 hari yang lalu.
Perusahaan ini menderita kerugian hingga USD231 miliar sejak 2012 dan meminta milisi Wagner harus segera meninggalkan kawasan tersebut.
Libya memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Afrika, tetapi produksi dan ekspor terhambat selama sembilan tahun konflik dan kekerasan sejak penggulingan penguasa Muammar Khadafi 2011.
Libya dirundung perang saudara sejak penggulingan dan pembunuhan terhadap Gaddafi pada 2011.
Pemerintah baru negara itu didirikan pada 2015 berdasarkan perjanjian yang dipimpin PBB, tetapi upaya untuk penyelesaian politik jangka panjang gagal karena serangan militer oleh pasukan jenderal Khalifa Haftar.
PBB mengakui pemerintah Libya yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj sebagai otoritas yang sah negara itu.
Sementara Haftar didukung oleh Rusia, Prancis, Mesir, dan Uni Emirat Arab (UEA).