Shenny Fierdha Chumaira
12 Desember 2017•Update: 13 Desember 2017
Shenny Fierdha Chumaira
KARANGASEM, BALI
Sampai Senin malam, terhitung ada 70.912 pengungsi akibat meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Agung di Bali dalam tiga bulan terakhir.
Meskipun demikian polisi menemukan ada warga yang masih bertahan di rumah dan menolak mengungsi.
“Terutama mereka yang selamat dari bencana erupsi Gunung Agung tahun 1963," kata Wakil Kepala Kepolisian Resor Karangasem Komisaris Anak Agung Gede Mudita di Karangasem, Bali, Senin malam kepada wartawan.
Menurutnya warga yang selamat dari erupsi 54 tahun silam tersebut menolak dievakuasi lantaran yakin bahwa mereka akan selamat lagi dari bencana.
Polisi juga mengeluhkan sejumlah warga yang sering pergi menonton aliran sungai yang terletak di antara Kecamatan Selat dan Kecamatan Rendang untuk melihat langsung material Gunung Agung yang hanyut terbawa hujan dan air menuju sungai.
"Padahal itu berbahaya karena tanah di sekitar sungai labil akibat tergerus dan tergenang lumpur Gunung Agung," kata Mudita.
Adakan patroli
Untuk mengamankan desa-desa yang kosong karena warganya mengungsi, polisi mengadakan patroli.
"Patroli dari pagi sampai sore. Malamnya dilanjutkan dengan patroli malam," kata Murdita.
Terletak di Kabupaten Karangasem, aktivitas vulkanik Gunung Agung mulai mengalami peningkatan sejak September 2017, memaksa puluhan ribu warga yang tinggal di dekat kawasan gunung untuk mengungsi.
Berdasarkan data terakhir para pengungsi ini tersebar di sembilan kabupaten, termasuk Kabupaten Denpasar, Karangasem, Gianyar dan Buleleng.
Menurut data terakhir, sebanyak 1.803 pengungsi berada di Kabupaten Denpasar, 40.872 pengungsi berada di Kabupaten Karangasem, 3.584 pengungsi berada di Kabupaten Gianyar, 10.950 pengungsi berada di Kabupaten Klungkung, 681 pengungsi di Kabupaten Badung, 1.035 pengungsi di Kabupaten Tabanan, 209 pengungsi berada di Kabupaten Jembrana, 10.863 di Kabupaten Buleleng, dan 915 pengungsi di Kabupaten Bangli.